Intinews | Proyek Abadi Masela resmi memasuki babak baru setelah dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) disetujui dan diserahkan kepada operator, PT Inpex Masela Ltd. Persetujuan ini menjadi landasan hukum penting untuk melanjutkan proyek ke tahap konstruksi fisik yang telah lama dinantikan.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa penyerahan AMDAL menjadi sinyal kuat dimulainya percepatan proyek strategis tersebut.
“Dengan diserahkannya AMDAL, maka tahapan proyek bisa dilanjutkan ke pekerjaan fisik. Ini momentum penting setelah proses panjang yang telah dilalui. Kami optimistis groundbreaking dapat terealisasi pada Semester I 2026,” ujar Djoko, Jumat (20/2/2026).
Penyerahan dokumen AMDAL dilakukan di kantor Kementerian Lingkungan Hidup, disaksikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala SKK Migas.
Djoko menambahkan, proyek ini tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi migas nasional, tetapi juga menjadi simbol kepastian investasi sektor energi.
“Masela adalah proyek hulu migas terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Realisasinya akan memberikan multiplier effect besar, baik terhadap penerimaan negara, penyerapan tenaga kerja, maupun pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia,” tegasnya.
Cadangan 18,54 TCF, Produksi 9,5 MTPA LNG
Lapangan Masela memiliki cadangan gas sekitar 18,54 triliun kaki kubik (TCF). Saat beroperasi penuh, Proyek Abadi Masela ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton per tahun (MTPA) LNG, 150 MMSCFD gas pipa, serta sekitar 35.000 barel per hari (BOPD) kondensat.
Proyek ini sempat mengalami perubahan komposisi hak partisipasi. Shell melepas kepemilikannya, yang kemudian diakuisisi oleh Pertamina dan Petronas.
Saat ini proses Front End Engineering Design (FEED) masih berjalan sebagai bagian dari tahapan menuju Final Investment Decision (FID).
Peran Strategis bagi Energi Nasional
Secara nasional, sektor migas masih menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia. Pemerintah menargetkan produksi gas nasional meningkat untuk mendukung kebutuhan domestik, termasuk pembangkit listrik, pupuk, serta industri petrokimia.
Proyek Masela diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama tambahan pasokan LNG Indonesia di tengah meningkatnya permintaan global dan domestik. Dengan investasi mencapai sekitar US$20 miliar, proyek ini juga termasuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sektor energi.
Selain itu, skema pengembangan Onshore LNG (OLNG) Masela dilengkapi teknologi Carbon Capture and Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) untuk mendukung target penurunan emisi karbon nasional dan komitmen net zero emission (NZE) Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.
Djoko menekankan bahwa keberhasilan Masela akan menjadi tolok ukur iklim investasi hulu migas Indonesia ke depan.
“Kami berharap Masela menjadi game changer. Setelah AMDAL selesai, kami akan kawal agar seluruh tahapan berikutnya berjalan sesuai timeline,” ujarnya.
Dengan dimulainya fase konstruksi, Proyek Abadi Masela diharapkan tak lagi menjadi proyek yang tertunda, melainkan motor baru penguatan ketahanan energi dan daya saing industri nasional. (vv)


















