Intinews | Di Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju, Kota Palembang, eceng gondok telah lama menjadi pemandangan akrab. Di wilayah seluas sekitar 192 hektare yang berada di tepian Sungai Musi dan Sungai Kedukan serta berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin itu, tanaman air tersebut lebih sering dipandang sebagai masalah daripada berkah.
Bagi lima belas anggota aktif, kelompok Anak-Anak Kreatif Bangsa (Ankubas), perjalanan itu dimulai dari persoalan yang sederhana. Eceng gondok tumbuh begitu cepat di aliran sungai hingga kerap mengganggu aktivitas masyarakat. Tanaman itu berkali-kali dibersihkan, namun selalu kembali mengikuti arus air.
Proses pengeringan air blok
Gagasan sederhana itu kemudian berkembang menjadi proses panjang yang penuh percobaan. Serat eceng gondok dibersihkan, dipisahkan, dikeringkan selama tiga hingga lima hari, lalu diolah menjadi media penyerap aroma. Proses pengembangan produk Ankubas dilakukan melalui berkali-kali uji coba hingga menghasilkan produk yang tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga mampu bersaing.
Wakil Ketua Ankubas, Prasojo Widodo, mengenang bagaimana kelompoknya awalnya hanya berupaya menjaga kebersihan lingkungan. Namun upaya tersebut tidak pernah memberikan hasil yang bertahan lama.
“Awalnya kami ingin menjaga kebersihan sungai dari eceng gondok. Tetapi selalu gagal karena tanaman itu terus datang mengikuti aliran sungai. Dari situ kami berpikir, daripada terus dibersihkan tanpa solusi, kenapa tidak dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
Produk tersebut dikenal dengan nama Ankubas Scents. Berbagai varian aroma seperti lemon, lavender, berry, kopi, stroberi, hingga vanila mulai diterima pasar. Produk itu dipasarkan melalui tempat pencucian mobil, bengkel, media sosial hingga marketplace.
Hingga akhir 2025, omzet kumulatif Ankubas Scents tercatat mencapai Rp110 juta.
Proses pencampuran bibit parfum
Prasojo mengatakan usaha tersebut mulai memberikan tambahan penghasilan bagi anggota, meski pembagiannya mengikuti hasil penjualan.
“Alhamdulillah, kegiatan ini sudah bisa memberikan tambahan kesejahteraan bagi anggota kelompok. Yang membuat kami bangga, bahan bakunya berasal dari lingkungan sekitar dan diolah oleh masyarakat sendiri,” kata Prasojo.
Ankubas juga menjalankan program Satu Produk, Satu Benih Ikan. Setiap produk yang terjual diikuti pelepasan benih ikan ke perairan sekitar sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
“Kami tidak hanya ingin menjual produk. Kami ingin apa yang kami lakukan juga memberikan dampak bagi lingkungan. Karena itu setiap produk yang terjual ikut kami kaitkan dengan pelepasan benih ikan di perairan sekitar,” tutur Prasojo.
Pelepasa bibit ikan di perairan Talang Putri
Keterlibatan anak-anak muda di lingkungan Talang Putri dalam kegiatan produksi dan pengembangan usaha tidak berhenti pada satu generasi.
Trie, salah satu ketua kelompok Ankubas, mengatakan pembagian hasil mengikuti penjualan dan belum menentu. Pembagian hasil dilakukan berbeda antara anggota marketing dan produksi.
“Untuk anggota marketing, pembagiannya mengikuti hasil penjualan masing-masing. Sementara anggota produksi mendapat bagian dari setiap penjualan yang ada. Besarannya tergantung jumlah produk yang terjual karena penjualan kami belum stabil,” kata Trie.
Camat Plaju Bambang Adrianto, S.STP., mengatakan pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali dapat menghambat aliran air, terutama saat musim hujan, sehingga berpotensi memperparah banjir.
“Sebelum ada Ankubas, eceng gondok menjadi persoalan yang kerap kami tangani melalui kegiatan gotong royong bersama Pemerintah Kota Palembang. Pertumbuhan tanaman ini menghambat kelancaran aliran air dan dapat memicu banjir saat musim hujan,” ujar Bambang.
Kilang Pertamina Plaju memberikan dukungan kepada kelompok Ankubas melalui penyediaan alat produksi, pembangunan workshop, penguatan kapasitas kelompok, pengurusan legalitas produk, serta akses pasar. Kelompok itu juga dihubungkan dengan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Pertamina Plaju, Siti Fauzia, mengatakan program tersebut dikembangkan melalui Eceng Gondok Research & Creative Center (ERCC).
“Melalui program ini kami berupaya menghadirkan Eceng Gondok Research & Creative Center sebagai wujud menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” ujar Siti.
Menurut Siti, dukungan awal diberikan pada fasilitas produksi, kapasitas kelompok, legalitas, dan akses pasar. Pengelolaan usaha selanjutnya diarahkan untuk dijalankan oleh kelompok.
Kelompok Ankubas kini telah membentuk PT Ankubas Kreatif Bersama (PT AKB). Meski sudah memiliki badan usaha, penjualan Ankubas Scents masih belum stabil dan pembagian hasil anggota tetap mengikuti jumlah produk yang terjual. (vie)