Intinews | Pada September 2026, inflasi Sumatera Selatan mencapai 0,21 persen secara bulanan. Naik dari Agustus yang hanya 0,06 persen.
Secara tahunan, inflasi Sumsel tercatat 2,55 persen. Angka ini turun tipis dibanding Agustus sebesar 2,60 persen.
Kenaikan harga beras menjadi penyumbang terbesar inflasi September. Komoditas ini memberi andil 0,14 persen.
Kemudian cabai merah 0,09 persen, cabai rawit 0,03 persen, telur ayam ras 0,01 persen dan pisang 0,01 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan Bambang Pramono mengatakan kondisi pangan masih menjadi perhatian TPID, terutama memasuki Oktober.
Menurut Bambang, kemarau yang lebih panjang berpotensi menekan pasokan hortikultura. Harga pakan juga masih memengaruhi komoditas telur dan daging ayam.
“Pengendalian inflasi terus kita lakukan bersama pemerintah daerah dan seluruh anggota TPID. Yang kita jaga terutama pasokan, distribusi dan keterjangkauan harga,” kata Bambang.
Untuk menahan kenaikan harga, operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM) dan SPHP terus digelar.
Sampai September, jumlahnya sudah lebih dari 493 kegiatan di berbagai daerah Sumsel.
Sidak pasar juga dilakukan untuk mengecek stok dan harga sejumlah kebutuhan pokok.
Bank Indonesia Sumsel ikut membantu distribusi melalui subsidi ongkos angkut. Sampai September sudah 77 kali subsidi diberikan.
Total komoditas yang diangkut mencapai sekitar 47,92 ton.
Pasokan bawang merah juga didatangkan dari Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Totalnya 23,02 ton.
Untuk cabai, pasokan dari Kabupaten Magelang mencapai 38,29 ton.
Kerja sama pasokan antarwilayah juga diperbanyak. Dengan Jawa Tengah, sudah ada delapan Kesepakatan Bersama dan 21 Perjanjian Kerja Sama.
Sementara kerja sama antarpelaku usaha atau B2B tercatat empat PKS.
Tekanan harga pada Oktober diperkirakan masih datang dari pangan.
Kemarau dan potensi El Nino menjadi perhatian karena bisa mengganggu produksi hortikultura.
Harga daging ayam juga masih dipantau. Begitu pula minyak goreng yang bisa terdorong kenaikan harga CPO global.
Di sisi lain, penguatan pasokan terus didorong melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP).
Program tersebut kini diarahkan menjadi Rantai Pasok Pangan GSMP. Pesantren dan koperasi mulai didorong masuk dalam rantai produksi dan distribusi.
BI Sumsel dan pemerintah daerah juga mendorong pertemuan antara produsen dengan pembeli melalui business matching serta akses pembiayaan dengan perbankan. (vv)

















