Intinews | Tahun 2025 meninggalkan jejak emas bagi industri hulu migas Indonesia. Berkat kemajuan teknologi digital dan kolaborasi tak kenal lelah, cadangan minyak dan gas bumi “tidur” di lapisan bumi berhasil dibangunkan, tambah 500 juta barel setara minyak (BOE) baru. SKK Migas catatkan penemuan 15 temuan eksplorasi, tertinggi dalam satu dekade.
Puncaknya, proyek-proyek strategis seperti perluasan Lapangan Rokan dan pengembangan Blok Masela berakselerasi berkat AI dan seismic imaging canggih.
“Teknologi bukan lagi mimpi, tapi senjata utama kami lawan natural decline. Di 2025, kita revivals 20% lapangan matang dengan enhanced oil recovery (EOR),” ujar Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Jumat (2/1/2026).
Kerja keras terlihat dari KKKS seperti Pertamina, Chevron, dan ExxonMobil yang investasikan Rp150 triliun. Di Rokan, Sumatera Utara, produksi naik 15% pasca-transisi operator ke Pertamina Hulu Rokan. Sementara di Papua, teknologi 4D seismic ungkap cadangan gas raksasa di blok frontier.
Tak luput tantangan: fluktuasi harga global dan regulasi ketat. Namun, sinergi pemerintah-swasta hasilkan Gross Split PSC yang tarik US$8 miliar investasi baru.
“Ini bukti, inovasi plus eksekusi jadi kunci bangunkan ‘cadangan tidur’ untuk energi masa depan,” tambah Djoko.
Jejak 2025 jadi fondasi 2026. Dengan momentum ini, Indonesia optimis capai target produksi 1 juta BOEPD, dukung ketahanan energi nasional di tengah transisi hijau. (vv)















