Intinews | Kapasitas pusat data (data center) Indonesia diproyeksikan meningkat dari sekitar 1 gigawatt (GW) pada Mei 2026 menjadi 11 GW pada 2030. Kenaikan ini mendorong PT PLN (Persero) memperkuat kesiapan pasokan listrik untuk menopang pertumbuhan industri digital dan pengembangan kecerdasan buatan (AI).
PLN menggandeng PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) untuk mendukung kebutuhan energi bagi pengembangan infrastruktur digital. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman PLN dan Telkom di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Direktur Utama PLN Suroso Isnandar mengatakan, pertumbuhan pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam kapasitas besar dengan tingkat keandalan yang terjaga.
“Pertumbuhan industri data center di Indonesia membutuhkan dukungan listrik yang tidak hanya besar, tetapi juga andal dan stabil,” ujar Suroso.
Menurut dia, PLN perlu menyiapkan perencanaan dan infrastruktur kelistrikan yang mampu mengikuti perkembangan kebutuhan industri. Melalui kerja sama tersebut, PLN siap menjajaki skema penyediaan infrastruktur listrik sesuai kebutuhan proyek.
Ruang lingkup kerja sama mencakup penyediaan tenaga listrik, layanan prioritas, pemanfaatan energi bersih, serta layanan pendukung di luar penjualan tenaga listrik. Pembahasan selanjutnya akan meliputi kebutuhan teknis, skema investasi, pengaturan komersial, dan mekanisme pelaksanaan.
Kebutuhan listrik pusat data diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya komputasi AI, layanan cloud, dan konektivitas digital. Selain pasokan listrik, pusat data juga membutuhkan sistem pendingin dan jaringan komunikasi yang mampu beroperasi secara stabil.
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, pengembangan AI membutuhkan infrastruktur yang mampu menopang komputasi dalam skala besar.
“Pengembangan AI tidak hanya membutuhkan model dan aplikasi, tetapi juga fondasi infrastruktur yang mampu mendukung kebutuhan komputasi dalam skala besar,” kata Nanang.
Ia mengatakan, Telkom ingin mengintegrasikan kemampuan pusat data dan konektivitas dengan ekosistem energi, kawasan industri, AI, serta layanan cloud untuk mendukung pengembangan infrastruktur AI nasional.
Sementara itu, Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia, Irwan Rei, menilai pengembangan infrastruktur AI membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dengan kemampuan yang saling melengkapi.
Menurut Irwan, Danantara berperan mengoordinasikan BUMN, penyedia infrastruktur, mitra teknologi, dan investor agar pembangunan infrastruktur digital dapat dimanfaatkan secara luas dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.
Kolaborasi PLN, Telkom, dan Danantara diumumkan dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta.
Pengembangan lebih lanjut masih akan melalui kajian dan kesepakatan definitif para pihak. Kerja sama ini menjadi langkah awal untuk menyelaraskan kebutuhan listrik dengan rencana pengembangan pusat data dan infrastruktur digital di Indonesia. (vv)

















