Intinews | Sebanyak 301.779 orang menerima manfaat dari 696 program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN sepanjang semester I 2026. Program tersebut dijalankan di berbagai daerah dengan fokus pada pendidikan, lingkungan, dan pengembangan usaha mikro dan kecil (UMK).
Salah satu program menyasar nelayan di Desa Tanjung Seloka, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Kelompok nelayan Seloka Crabs kini tidak lagi langsung menjual seluruh kepiting hasil tangkapan, tetapi melakukan budidaya dan penggemukan kepiting soka sebelum dipasarkan.
Ketua Kelompok Nelayan Seloka Crabs, Irhamsyah, mengatakan cara tersebut membuat harga jual kepiting lebih tinggi.
“Dulu kami hanya menjual kepiting apa adanya, ukurannya kecil dan harganya rendah. Sekarang, setelah dibudidayakan dan digemukkan, nilainya jauh lebih tinggi dan hasilnya lebih pasti,” kata Irhamsyah.
Melalui Program Desa Berdaya PLN, kelompok nelayan juga mendapat pendampingan budidaya, sarana produksi, edukasi lingkungan, serta penanaman pohon.
PLN juga mendukung pemanfaatan fly ash and bottom ash (FABA) sebagai bahan terumbu karang buatan dan rumah ikan (bioreef block) di kawasan pesisir tersebut.
Bagi Irhamsyah, menjaga laut menjadi bagian dari usaha mempertahankan sumber penghasilan nelayan.
“Kalau laut tetap terjaga, kami yakin penghidupan masyarakat juga akan terus berlanjut. Sekarang kami tidak hanya memikirkan hasil hari ini, tetapi juga bagaimana sumber daya laut tetap ada untuk anak cucu kami nanti,” ujarnya.
Di Semarang, Jawa Tengah, program TJSL PLN menyasar lulusan SMK dan masyarakat yang membutuhkan keterampilan kerja.
Melalui Program Pelatihan Sumber Daya Manusia Industri Tekstil dan Alas Kaki, peserta mendapat pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Sebagian peserta kemudian mendapat kesempatan mengikuti proses penyaluran kerja ke perusahaan tekstil dan alas kaki di Jawa Tengah.
Salah seorang peserta, Nawang Dwi Prasasti, mengatakan pelatihan tersebut memberinya kesempatan mendapatkan pekerjaan.
“Program ini memberi saya kesempatan untuk membuktikan bahwa kami juga mampu bersaing jika diberikan akses belajar dan kesempatan. Setelah mengikuti pelatihan, saya lebih optimistis menatap masa depan karena kini memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk membantu keluarga,” kata Nawang.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengapresiasi program yang menghubungkan pelatihan dengan kebutuhan tenaga kerja industri.
“Program ini tidak hanya sekadar memberikan bekal keterampilan, tetapi juga memberikan kepastian penyaluran kerja,” ujarnya.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan program TJSL PLN menggunakan pendekatan Creating Shared Value (CSV).
“Program TJSL PLN dirancang berlandaskan Creating Shared Value untuk menghasilkan dampak yang nyata, terukur, dan berkelanjutan,” kata Darmawan.
Direktur Legal dan Manajemen Human Capital PLN Nurlely Aman mengatakan pelaksanaan TJSL pada semester I 2026 difokuskan pada tiga sektor.
Di bidang pendidikan, PLN menjalankan 215 program dengan 41.517 penerima manfaat. Sektor lingkungan mencatat 245 program yang mencakup perlindungan ekosistem, penghijauan, air bersih, dan sanitasi.
Sementara pengembangan UMK mencakup 214 program dengan 4.316 pelaku usaha. Program tersebut menciptakan 9.148 lapangan kerja dan menjangkau 46.520 masyarakat.
Kegiatannya meliputi pengembangan Rumah BUMN, electrifying agriculture, electrifying marine, serta pendampingan usaha. (vv)

















