Intinews | Malam bukan lagi menjadi batas bagi aktivitas keluarga Mino. Rumahnya kini terang. Anak-anaknya bisa belajar lebih nyaman, sementara aktivitas keluarga dapat berlangsung tanpa terus dibayangi keterbatasan penerangan.
Perubahan itu mungkin terlihat sederhana. Hanya satu sambungan listrik berdaya 450 volt ampere (VA). Namun, bagi Mino, warga RT 11 Kelurahan Talang Jawa Selatan, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, sambungan tersebut merupakan harapan yang telah lama dinantikan.
Pada Senin (31/8/2026), rumah yang ditempatinya bersama keluarga akhirnya memiliki sambungan listrik mandiri. Bantuan itu diberikan PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Lahat dalam program Light Up The Dream (LUTD), menjelang peringatan Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2026.
Mino tak dapat menyembunyikan rasa harunya ketika listrik pertama kali menyala di rumahnya. Baginya, kehadiran listrik bukan sekadar membuat ruangan terang, tetapi juga memberi kesempatan kepada anak-anaknya untuk belajar dengan lebih tenang.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN UP3 Lahat. Selama ini kami hanya bisa bermimpi mempunyai listrik sendiri. Sekarang rumah kami sudah terang, anak-anak bisa belajar dengan tenang, dan kami tidak perlu khawatir gelap lagi,” ungkap Mino.
Pengalaman keluarga Mino memperlihatkan sisi lain dari persoalan akses energi. Di tengah pembangunan infrastruktur kelistrikan yang terus berjalan, masih ada keluarga yang membutuhkan dukungan agar dapat menikmati sambungan listrik secara mandiri.
Bagi keluarga yang belum memiliki sambungan sendiri, keterbatasan akses listrik dapat berpengaruh pada berbagai aktivitas. Waktu belajar anak, kegiatan rumah tangga, hingga peluang menjalankan usaha dari rumah bisa menjadi tidak leluasa.
Karena itu, pemerataan akses listrik tidak cukup hanya berbicara tentang jaringan dan kapasitas pasokan. Manfaatnya harus benar-benar sampai kepada masyarakat, termasuk keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Angka elektrifikasi tinggi, pekerjaan pemerataan belum selesai
Sambungan listrik di rumah Mino menyelesaikan satu persoalan yang selama ini dihadapi keluarganya. Namun, persoalan akses energi di Sumatera Selatan belum berhenti pada satu rumah.
Data Dinas ESDM Sumatera Selatan menunjukkan masih ada 23 desa yang belum terjangkau listrik PLN hingga akhir Maret 2026. Angka tersebut memperlihatkan bahwa di tengah pembangunan infrastruktur kelistrikan, pemerataan akses masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan.
Persoalan itu memiliki tantangan berbeda. Di satu sisi, ada wilayah terpencil yang terkendala kondisi geografis dan akses transportasi. Di sisi lain, ada keluarga yang membutuhkan bantuan agar mampu memiliki sambungan listrik sendiri.
Keduanya memperlihatkan bahwa keadilan energi tidak cukup diukur dari seberapa luas jaringan telah dibangun. Akses tersebut harus benar-benar dapat dinikmati masyarakat.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan persentase rumah tangga di Sumatera Selatan yang menggunakan listrik PLN sebagai sumber penerangan utama mencapai 96,70 persen. Di wilayah perdesaan, angkanya sebesar 95,19 persen.
Kedua data tersebut mengukur hal yang berbeda. Rasio desa berlistrik menunjukkan keberadaan akses listrik pada tingkat desa, sedangkan persentase rumah tangga menggambarkan penggunaan listrik pada tingkat rumah tangga. Desa yang telah terjangkau jaringan belum tentu seluruh rumah tangganya sudah menikmati sambungan PLN.
Dengan kondisi tersebut, pemerataan energi masih membutuhkan perhatian, baik melalui perluasan infrastruktur ke wilayah terpencil maupun bantuan sambungan bagi keluarga yang belum mampu mengakses listrik secara mandiri.
Di sinilah kisah Mino menemukan relevansinya. Persoalan yang dihadapi keluarganya memang berbeda dengan tantangan geografis di wilayah terpencil. Namun, keduanya bertemu pada satu persoalan: bagaimana memastikan masyarakat memperoleh manfaat energi secara layak.
Kepedulian pegawai membuka akses listrik
Sambungan listrik yang kini dinikmati keluarga Mino berasal dari program Light Up The Dream. Program ini digerakkan melalui kepedulian para pegawai PLN yang secara sukarela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu keluarga prasejahtera memperoleh sambungan listrik mandiri.
Bantuan tersebut memperlihatkan bahwa upaya memperluas akses energi tidak hanya dilakukan melalui pembangunan jaringan dan infrastruktur. Kemampuan ekonomi masyarakat juga menjadi persoalan yang perlu dijawab agar listrik dapat dinikmati secara langsung.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (UID S2JB), Diksi Erfani Umar, mengatakan kebahagiaan keluarga Mino menjadi pengingat bahwa pelayanan kelistrikan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Terangnya listrik di rumah Bapak Mino bukan hanya tentang menyalakan lampu. Di sana ada harapan agar anak-anak dapat belajar lebih nyaman, keluarga menjalani aktivitas dengan lebih baik, dan perlahan kualitas hidup mereka ikut meningkat. Inilah pelayanan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat dan ingin terus kami hadirkan,” katanya.
Manager PLN UP3 Lahat, Agus Priyanto, menjelaskan bahwa Light Up The Dream merupakan gerakan gotong royong dari lingkungan internal PLN.
“Program ini digerakkan oleh keikhlasan para pegawai PLN yang ingin berbagi kebahagiaan. Kami berharap listrik berdaya 450 VA ini tidak hanya menerangi rumah Bapak Mino, tetapi juga mendukung kegiatan belajar anak-anak serta aktivitas ekonomi keluarga sehari-hari,” kata Agus.
Keberadaan sambungan listrik mandiri kini memberi keluarga Mino keleluasaan lebih besar dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pada skala yang lebih luas, akses energi juga dapat mendukung produktivitas masyarakat. Di tingkat desa, listrik dibutuhkan untuk pengolahan hasil pertanian, usaha rumahan, penyimpanan produk, hingga pengembangan kegiatan ekonomi lainnya.
Dengan demikian, pemerataan listrik bukan hanya persoalan menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkembang dan lebih mandiri.
Dari satu rumah, menuju pemerataan manfaat energi
Penyalaan listrik di rumah Mino turut disaksikan pemerintah setempat. Camat Lahat Damhari, Lurah Talang Jawa Selatan Willy Andreas, perwakilan Dinas Perhubungan Kabupaten Lahat Mukhlis, serta Ketua RT 11 Priono hadir dalam kegiatan tersebut.
Damhari mengapresiasi kepedulian para pegawai PLN yang telah membantu warganya memperoleh sambungan listrik mandiri.
“Kami mengapresiasi PLN UP3 Lahat. Program ini sangat membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan warga, khususnya masyarakat prasejahtera di Kecamatan Lahat,” ujarnya.
Bagi Mino, kehadiran listrik mungkin menjadi jawaban atas penantian panjang keluarganya. Kini, anak-anaknya memiliki kesempatan belajar dengan penerangan yang lebih baik dan aktivitas rumah tangga dapat berlangsung lebih leluasa.
Namun, di tingkat daerah, pekerjaan pemerataan energi masih jauh dari selesai. Sebanyak 23 desa yang belum terjangkau listrik PLN menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang menunggu akses serupa.
Cerita Mino memperlihatkan bahwa keadilan energi bukan sekadar tentang jaringan yang mencapai suatu wilayah. Ukurannya adalah ketika setiap keluarga memiliki kesempatan menikmati listrik secara layak, tanpa terhalang keterbatasan ekonomi maupun kondisi geografis.
Satu rumah telah mendapatkan akses. Tantangan berikutnya adalah memastikan kesempatan yang sama dapat menjangkau lebih banyak keluarga di Sumatera Selatan. (vie)


















