Intinews | Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menggeber program kerja di awal 2026 untuk menstabilkan produksi migas nasional di angka 1 juta barel setara minyak per hari (BOEPD). Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjanjikan percepatan investasi dan eksplorasi guna hadapi tantangan natural decline.
Dalam konferensi pers Jumat (2/1/2026), Djoko menjelaskan bahwa 2026 jadi momentum krusial industri hulu migas.
“Kita prioritaskan optimalisasi sumur existing, percepatan proyek besar seperti Tangguh-3, dan eksplorasi agresif di blok belum tergarap seperti di Papua dan Sulawesi,” katanya.
Ia menambahkan, SKK Migas dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) telah susun roadmap kolaboratif. Termasuk insentif pajak dan kemudahan perizinan untuk tarik investor asing, dengan target lifting minyak 705 ribu BOPD dan gas 1.657 MMSCFD.
Dari sisi regulasi, Djoko tekankan sinergi dengan Kementerian ESDM dan pemda untuk hilangkan hambatan birokrasi.
“Investasi hulu migas harus kondusif, kontribusi PDB nasional dari sektor ini diproyeksi naik 5-7% tahun ini,” ujarnya.
Menutup paparannya, Djoko mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan 2026 sebagai tahun kerja nyata. Bukan sekadar target di atas kertas, melainkan capaian yang benar-benar dirasakan manfaatnya bagi negara. (vv)















