Intinews | Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan menyatakan kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) sepanjang tahun 2025 masih berada dalam kondisi stabil dan resilien, di tengah dinamika perekonomian nasional dan global.
Wilayah Sumbagsel meliputi Provinsi Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Lampung, dan Bengkulu. Stabilitas tersebut tercermin dari kinerja positif sektor perbankan, pasar modal, serta industri keuangan nonbank (IKNB), yang didukung oleh peningkatan edukasi dan pelindungan konsumen.
Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menegaskan bahwa sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci terjaganya stabilitas sektor jasa keuangan di kawasan tersebut.
“Secara umum, kinerja Industri Jasa Keuangan di wilayah Sumbagsel hingga November 2025 masih cukup terjaga dan stabil. Fungsi intermediasi berjalan baik, risiko tetap terkendali, serta literasi dan inklusi keuangan terus diperkuat,” ujar Arifin, Rabu (14/1/2026).
Perbankan Tumbuh, NPL Tetap Rendah
Per November 2025, total aset perbankan di Sumbagsel tercatat tumbuh 6,13 persen (year on year/yoy) menjadi Rp369,95 triliun. Penyaluran kredit dan pembiayaan juga meningkat 5,29 persen (yoy) menjadi Rp322,88 triliun, dengan porsi terbesar berasal dari kredit konsumtif sebesar 43,59 persen.
Kualitas kredit tetap terjaga, tercermin dari NPL Net yang rendah di level 1,01 persen. Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,79 persen (yoy) menjadi Rp292,43 triliun, dengan dominasi dana tabungan mencapai 55,54 persen.
“Pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan di Sumbagsel tetap kuat,” kata Arifin.
Kredit UMKM di Atas Target Nasional
Dari sisi sektoral, kredit terbesar disalurkan ke sektor rumah tangga sebesar Rp122,89 triliun, tumbuh 8,60 persen (yoy). Namun, pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang meningkat 10,35 persen menjadi Rp61,60 triliun.
Penyaluran kredit kepada UMKM mencapai Rp123,34 triliun atau 38,20 persen dari total kredit Sumbagsel, jauh di atas target minimum nasional sebesar 30 persen.
“OJK terus mendorong perbankan agar memperkuat pembiayaan produktif, khususnya UMKM, sebagai motor penggerak ekonomi daerah,” tegas Arifin.
Investor Pasar Modal Melonjak
Di sektor pasar modal, jumlah Single Investor Identification (SID) di Sumbagsel per November 2025 mencapai 1.346.817 investor, melonjak 41,43 persen (yoy). Mayoritas investor menggunakan instrumen reksa dana (94,51 persen).
Rata-rata nilai transaksi saham di Sumbagsel juga tumbuh signifikan 56,22 persen (yoy) menjadi Rp13,73 triliun, sementara penjualan reksa dana meningkat 96,05 persen (yoy) menjadi Rp873,02 miliar.
IKNB Tetap Sehat, Pengaduan Terus Ditangani
Pada sektor IKNB, nilai piutang pembiayaan di Sumbagsel mencapai Rp42,17 triliun dengan pertumbuhan 1,82 persen (yoy). Rasio Non Performing Financing (NPF) tetap terjaga di bawah 5 persen.
Sementara itu, OJK menerima 3.793 pengaduan masyarakat hingga Desember 2025, mayoritas berasal dari sektor IKNB. Tingkat penyelesaian pengaduan mencapai 79,99 persen, termasuk melalui Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa (LAPS).
Literasi dan Inklusi Keuangan Terus Diperkuat
Sepanjang 2025, OJK bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) telah melaksanakan 1.308 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 192.390 peserta di wilayah Sumbagsel.
Berbagai program unggulan dijalankan, di antaranya Gebyar Laksan, Desa Sumsel Terus Maju, Aksi Pangan Sumsel 2025, hingga Sumsel Youth Entrepreneur Incubator.
“Ke depan, OJK berkomitmen terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan agar pertumbuhan sektor jasa keuangan benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat,” pungkas Arifin.















