Intinews | Perkembangan sistem pembayaran digital di Sumatera Selatan menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Digitalisasi transaksi yang semakin luas mendorong peningkatan penggunaan instrumen pembayaran non tunai, khususnya layanan QRIS yang mencatat pertumbuhan signifikan.
Berdasarkan data yang diolah dari Bank Indonesia, nominal transaksi QRIS di Sumatera Selatan pada Januari 2026 tumbuh sekitar 86,32 persen (year on year) hingga mencapai Rp2,55 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan lonjakan volume transaksi sebesar 114,87 persen atau sekitar 2,6 juta transaksi.
Kondisi tersebut menandakan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembayaran digital. Selain QRIS, instrumen non tunai lainnya seperti kartu kredit dan uang elektronik juga mencatatkan pertumbuhan positif, sementara transaksi kartu ATM/debit menunjukkan dinamika yang cenderung stabil seiring normalisasi aktivitas ekonomi di awal tahun.
Secara keseluruhan, nominal transaksi kartu ATM/debit di wilayah ini tercatat mencapai Rp14,66 triliun dengan volume sekitar 10,52 juta transaksi. Sementara itu, transaksi kartu kredit mencapai Rp1,27 triliun dan uang elektronik sebesar Rp318 miliar, yang turut memperlihatkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Tantangan Literasi Digital Masih Perlu Diperkuat
Di tengah pertumbuhan pesat sistem pembayaran digital, tantangan terkait literasi pengguna masih menjadi perhatian. Indeks masyarakat digital di Sumatera Selatan tercatat berada pada angka 41,00, sedikit di bawah rata-rata nasional sebesar 43,34.
Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi kepada masyarakat agar lebih memahami keamanan transaksi digital. Berbagai risiko seperti penipuan daring (fraud) dan modus kejahatan digital menjadi faktor yang perlu diantisipasi melalui peningkatan literasi.
Edukasi Konsumen Jadi Strategi Penguatan Sistem Pembayaran
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, Bank Indonesia terus memperluas infrastruktur pembayaran digital sekaligus mendorong program edukasi perlindungan konsumen melalui kampanye bersama lintas sektor.
Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan keberdayaan masyarakat dalam memanfaatkan layanan digital secara aman dan optimal. Selain itu, penguatan literasi juga diyakini dapat mempercepat transformasi ekonomi digital daerah serta mendorong pertumbuhan transaksi non tunai yang lebih inklusif di masa mendatang.
Dengan tren peningkatan transaksi digital yang konsisten, sistem pembayaran non tunai diproyeksikan akan semakin menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi masyarakat Sumatera Selatan, baik untuk kebutuhan ritel, layanan publik, maupun sektor usaha kecil dan menengah. (vv)

















