Intinews | Bank Indonesia (BI) melaporkan perkembangan stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik. Pada penutupan perdagangan Rabu (14/1/2026), Rupiah berada di level Rp16.855 per dolar AS, dan menguat tipis pada pembukaan Kamis (15/1/2026) pagi ke Rp16.840 per dolar AS.
Dari pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat naik dari 6,21 persen menjadi 6,23 persen, seiring meningkatnya kehati-hatian investor. Sementara itu, kondisi global relatif mendukung dengan indeks dolar AS (DXY) melemah ke 99,06 dan yield US Treasury Note 10 tahun turun ke 4,132 persen.
BI mencatat, berdasarkan data transaksi 12–14 Januari 2026, investor nonresiden membukukan jual neto Rp7,71 triliun, yang berasal dari jual neto Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meskipun masih terdapat beli neto Rp3,08 triliun di pasar saham. Dari sisi risiko, premi CDS Indonesia 5 tahun per 14 Januari 2026 naik ke 71,43 basis poin dari sebelumnya 69,31 basis poin.
Secara kumulatif sepanjang 2026 hingga 14 Januari, nonresiden mencatat beli neto Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham, namun masih jual neto Rp9,91 triliun di pasar SBN.
“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, di Jakarta, Kamis (15/1/2026). (vv)















