Intinews | Kegiatan GENSET 6.0 (Gen LIMAS Networking Space) sukses digelar di Ballroom Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan dengan mengusung tema “Stop FOMO, Saving & Investment: Finding Smart Financial Planning for Zillenials Future”. Acara ini menjadi wadah edukasi finansial bagi generasi muda, khususnya Zillenial, untuk membangun pola pikir keuangan yang lebih bijak dan terarah.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto, jajaran pejabat OJK, serta ratusan peserta dari kalangan generasi muda. Antusiasme terlihat tinggi, dengan 250 kursi terisi penuh dalam waktu kurang dari 24 jam sejak pendaftaran dibuka.
Presiden Gen LIMAS 2026, M. Febrin Abiyyu Ilyasa, menyampaikan bahwa GENSET 6.0 diharapkan mampu menjadi katalis dalam membentuk karakter finansial generasi muda.
“Kami ingin generasi muda tidak mudah terpengaruh tren sesaat, tetapi mampu mengambil keputusan keuangan yang cerdas dan terencana,” ujarnya.
Sementara itu, Lead Crew GENSET 6.0, Maria Yesica, menekankan pentingnya membangun disiplin finansial sejak dini.
“Kami ingin membantu peserta untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi mulai berorientasi pada tujuan keuangan jangka panjang,” ungkapnya.
Berdasarkan data OJK, tingkat literasi keuangan generasi muda tergolong cukup tinggi, yakni mencapai 74,8% untuk generasi Z dan 71,7% untuk milenial. Bahkan, kontribusi mereka terhadap total simpanan nasional mencapai 33,1% atau setara Rp1.285,3 triliun. Hal ini menunjukkan peran strategis generasi muda dalam perekonomian nasional.
Dalam sambutannya, Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto mengingatkan pentingnya membangun pola pikir finansial yang tepat sejak awal.
“Jika masih terdorong oleh tren atau FOMO, maka pengelolaan keuangan akan cenderung tidak terarah. Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan,” tegasnya.
Pada sesi Chat Talkshow, narasumber Muhammad Akmal Daffari menyoroti konsep “Why Saving Cash Loses”. Ia menjelaskan bahwa menyimpan uang secara pasif, terutama dalam bentuk tunai, dapat menurunkan daya beli akibat inflasi.
“Saving cash tanpa diimbangi investasi justru membuat nilai uang tergerus,” jelasnya.
Ia pun mendorong generasi muda untuk mulai mengalokasikan dana ke instrumen investasi sesuai profil risiko.
“Dengan begitu, aset tidak hanya terjaga, tetapi juga berpotensi tumbuh,” tambahnya.
Senada dengan itu, Financial Wellness Manager FINETIKS, Anthony Ferdinan, menekankan pentingnya budgeting sebagai fondasi pengelolaan keuangan.
“Budgeting bukan sekadar mencatat, tetapi cara mengontrol keuangan agar lebih sehat dan terarah,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan konsep Good FOMO, yakni mengubah fenomena FOMO menjadi dorongan positif.
“Generasi muda bisa menciptakan tren berbagi insight keuangan yang bermanfaat di media sosial, sehingga mendorong kesadaran finansial secara kolektif,” katanya.
Kegiatan semakin interaktif dengan adanya sesi Nominal Group Discussion (NGD), di mana peserta berdiskusi dalam kelompok kecil untuk mengidentifikasi masalah finansial dan merumuskan solusi aplikatif. Sesi ini dinilai efektif dalam membangun pola pikir kritis dan kolaboratif.
GENSET 6.0 menjadi bukti bahwa literasi keuangan dan keterampilan digital merupakan aspek penting dalam menghadapi era transformasi ekonomi. Kolaborasi antara OJK Sumsel dan Gen LIMAS diharapkan terus berlanjut guna memperluas edukasi finansial yang inklusif dan inovatif.
Ke depan, Gen LIMAS berkomitmen untuk menghadirkan program serupa sebagai upaya meningkatkan kesadaran generasi muda dalam mengelola keuangan secara bijak dan tepat sasaran. (vv)

















