Intinews | Di kawasan Tuan Kentang, Palembang, suara hentakan alat tenun manual masih setia berpadu dengan benang-benang berwarna. Dari ruang sederhana itulah Tenun Tuan tumbuh sebagai usaha berbasis kearifan lokal sekaligus penjaga warisan budaya Palembang.
Pemilik Tenun Tuan, Sarifudin, menuturkan bahwa usaha ini berakar dari bisnis keluarga yang telah berjalan sejak 1970-an. Namun, pengembangan serius baru dimulai pada 2010 ketika ia terjun langsung mengelola produksi dan pemasaran.
“Dulu orang tua saya hanya mengerjakan kain berdasarkan pesanan. Saya melihat ada potensi besar yang bisa dikembangkan,” ujar Sarifudin.
Usaha yang sempat dikenal sebagai Rumah Tanjung Antik ini resmi berganti nama menjadi Tenun Tuan setelah perizinan usaha rampung. Perubahan tersebut menjadi titik awal transformasi bisnis, termasuk pembenahan sistem produksi dan pemasaran.
Pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat. Penjualan yang sempat menjangkau luar daerah mengalami penurunan signifikan. Menyikapi kondisi itu, Tenun Tuan melakukan penyesuaian strategi, termasuk rebranding dan penguatan kerja sama dengan galeri tenun.
“Kami belajar membaca pasar dan beradaptasi. Hasilnya, pada 2024 omzet kami mencapai Rp500 juta,” ungkapnya.
Keunikan Tenun Tuan terletak pada proses produksi mandiri menggunakan ATBM, dengan pengerjaan dari nol hingga finishing. Satu helai kain tenun bahkan membutuhkan waktu hampir satu bulan hingga siap digunakan.
Tak hanya berorientasi bisnis, Tenun Tuan juga melibatkan sekitar 30 warga lokal dalam proses produksi. Dukungan pembinaan dari PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melalui Rumah BUMN turut membuka akses pasar hingga ke pameran internasional.
Bagi Sarifudin, Tenun Tuan bukan sekadar usaha, melainkan ikhtiar menjaga budaya sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. (vv)


















