Intinews | Provinsi Sumatera Selatan mencatat inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,49% pada Desember 2025, naik dari 0,02% pada periode sebelumnya. Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Sumsel stabil di 2,91%, lebih rendah dari inflasi nasional yang melonjak menjadi 2,92% dari 2,72%. Capaian ini masih berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1%, menunjukkan pengendalian inflasi yang efektif sepanjang 2025.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumatera Selatan (Sumsel), Bambang Pramono menjelaskan, kenaikan inflasi terutama dipicu oleh harga emas perhiasan yang menyumbang 0,09% (mtm), diikuti bawang merah 0,07%, daging ayam ras 0,07%, cabai rawit 0,06%, dan cabai merah 0,05%. Tren harga emas terus naik karena permintaan tinggi sebagai aset safe-haven di tengah gejolak ekonomi global. Sementara itu, daging ayam ras terdongkrak konsumsi Nataru, dan komoditas hortikultura seperti bawang merah serta cabai mengalami tekanan akibat pasokan terbatas dari gangguan cuaca di daerah sentra produksi.
“Inflasi Sumsel diprediksi tetap terjaga meski ada risiko dari peningkatan konsumsi jelang Tahun Baru Imlek dan Isra Mi’raj. Tekanan harga pangan dan hortikultura berpotensi muncul karena curah hujan tinggi hingga Februari serta dampak banjir bandang di beberapa wilayah Sumatera. Harga emas juga berisiko tinggi akibat dinamika global yang memengaruhi inflasi inti. Namun, laju inflasi bisa ditekan oleh normalisasi permintaan pasca-liburan akhir tahun dan penurunan harga BBM non-subsidi per Januari 2026”, jelas Bambang.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga (K1), ketersediaan pasokan (K2), kelancaran distribusi (K3), dan komunikasi yang efektif (K4).
Berbagai langkah konkret mencakup 542 operasi pasar murah (OPM) hingga akhir Desember, koordinasi dengan Bulog untuk beras SPHP, serta penyaluran melalui Toko KePo (Kebutuhan Pokok), RPK (Rumah Pangan Kita), dan Toko Penyeimbang Perumda Pasar Palembang Jaya. TPID juga rutin sidak ke pasar, distributor, dan produsen untuk jaga HET dan stok.
Untuk ketahanan pangan, Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) 2025 menyasar 1.020 rumah tangga, 68 Kelompok Wanita Tani (KWT), panti sosial, dan seluruh OPD melalui program GSMP Menyala, Goes to Panti Sosial, dan Goes to Office. Bank Indonesia Sumsel sediakan bibit cabai-bawang merah, capacity building di empat zona, serta pendampingan pasca-panen hingga pembentukan koperasi. Subsidi ongkos angkut beras SPHP juga diberikan untuk OPM di Palembang.
Komunikasi diperkuat lewat High Level Meeting (HLM) TPID yang dipimpin Gubernur H. Herman Deru pada 4 Desember, ditindaklanjuti TPID Lubuklinggau, Muara Enim, Ogan Komering Ilir, dan Ogan Ilir. Bukti dedikasi: TPID Sumsel dan TPID Palembang raih penghargaan TPID Berkinerja Terbaik Kawasan Sumatera 2025 dari Presiden RI.
Ke depan Bank Indonesia Sumsel dan Pemda berkomitmen memperkuat sinergi lewat GNPIP dan GSMP, termasuk dukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Seluruh upaya tersebut tidak hanya difokuskan untuk menjaga inflasi agar tetap berada dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan, tetapi juga untuk memperkuat fondasi ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas sektor pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. (vv)


















