Intinews | Women Crisis Center (WCC) Palembang bersama sejumlah komunitas perempuan resmi meluncurkan pembalut kain ramah lingkungan Cindo Pads di Palembang, Kamis (7/5/2026). Produk ini hadir sebagai solusi kesehatan reproduksi perempuan sekaligus upaya mengurangi limbah pembalut sekali pakai yang selama ini sulit terurai.
Peluncuran Cindo Pads menjadi bentuk kolaborasi antara WCC Palembang, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Sumsel, Bank Sampah Kenanga, serta kelompok CU Jaya Bersama. Program ini juga melibatkan perempuan disabilitas dan komunitas penjahit lokal dalam proses produksi.
Penanggung jawab Cindo Pads, Yeni Roslaini, mengatakan pembalut kain tersebut lahir dari kebutuhan nyata perempuan terhadap produk menstruasi yang lebih aman dan nyaman digunakan sehari-hari.
“Cindo Pads dibuat dari bahan lembut berbahan katun yang aman untuk kulit, nyaman dipakai, serta minim risiko iritasi karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya seperti pembalut sekali pakai,” ujar Yeni saat konferensi pers di Swarna Dwipa Hotel.
Menurutnya, penggunaan pembalut kain juga menjadi bagian dari edukasi kesehatan reproduksi perempuan yang selama ini masih dianggap tabu di masyarakat. Karena itu, sosialisasi terus dilakukan melalui sekolah, kelompok perempuan, hingga instansi pemerintah.

Selain berdampak pada kesehatan, Cindo Pads juga membawa misi lingkungan. Ketua Bank Sampah Kenanga, Nyimas Eli Agustina, menjelaskan limbah pembalut sekali pakai menjadi salah satu penyumbang sampah domestik yang sulit diurai.
“Pembalut kain bisa menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan karena dapat dicuci dan digunakan kembali dalam jangka waktu lama,” katanya.
Ia menambahkan, produksi Cindo Pads sekaligus membuka peluang ekonomi bagi perempuan melalui usaha jahit rumahan dan pengembangan UMKM lokal di Palembang.
Sementara itu, perwakilan Women Led Community Centre (WLCC), Yulis Mawati, mengungkapkan proses produksi Cindo Pads telah melalui riset dan uji coba sebelum dipasarkan. Produk tersebut menggunakan kombinasi bahan katun, lapisan perlak penahan cairan, serta kain batik untuk mempercantik tampilan.
“Pemilihan bahan dilakukan agar nyaman dipakai, tidak panas, dan tetap aman menahan menstruasi tanpa bocor,” ujar Yulis.
Dukungan juga datang dari Ketua HWDI Sumsel, Hikma Maulana. Ia mengaku sudah menggunakan Cindo Pads sejak tahap uji coba dan merasakan manfaatnya secara langsung.
“Nyaman digunakan, tidak membuat iritasi, dan sangat membantu terutama bagi perempuan yang lebih banyak beraktivitas sambil duduk,” katanya.
Hingga saat ini, Cindo Pads telah memproduksi sekitar 800 pembalut kain dengan penjualan mencapai 100 produk. Pemasaran masih dilakukan secara bertahap melalui komunitas perempuan dan promosi dari mulut ke mulut.
Bagian pemasaran Cindo Pads, Eva, mengatakan pihaknya kini mulai menyiapkan penjualan digital untuk memperluas pasar. Produk tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari pantyliner hingga ukuran large.
“Selain membeli produk ramah lingkungan, konsumen juga ikut mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan dan pendampingan korban kekerasan terhadap perempuan,” ujarnya.
Cindo Pads dipasarkan dalam beberapa pilihan paket dengan harga mulai Rp60 ribu hingga Rp110 ribu. Masyarakat yang ingin mendapatkan produk tersebut dapat menghubungi WhatsApp 0821-6444-7877 atau melalui media sosial Instagram dan Facebook Cindo Pads.
Melalui gerakan ini, WCC Palembang bersama para mitra berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi perempuan dan pengurangan sampah dapat terus meningkat. Cindo Pads diharapkan menjadi langkah kecil yang mampu membawa perubahan besar bagi perempuan, ekonomi lokal, dan lingkungan. (vv)

















