Intinews | Di tengah tantangan ekonomi global yang masih dinamis, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah (EKSYAR) dinilai menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Potensi besar yang dimiliki Sumatera Selatan menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, dalam kegiatan bincang ekonomi santai membangun optimisme bertema “Sinergi Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah Sumsel melalui Festival Ekonomi Syariah (FESYAR) Regional Sumsel yang akan berlangsung di Palembang 5-7 Juni 2026”, bertempat di Kantor Bank Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Menurut Bambang, kondisi ekonomi global saat ini tetap perlu diwaspadai meskipun Indonesia masih mampu menjaga stabilitas ekonomi dengan baik. Ia menegaskan bahwa pengembangan ekonomi syariah dapat menjadi salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah.
“Di tengah dinamika ekonomi global, ekonomi syariah menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Potensi Sumatera Selatan sangat besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah, mulai dari sektor halal food, modest fashion, pariwisata ramah muslim hingga penguatan ekonomi berbasis pesantren,” ujar Bambang.
Berdasarkan data yang dipaparkan, sekitar 97 persen penduduk Sumatera Selatan beragama Islam. Kondisi tersebut menjadi peluang besar dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah yang terintegrasi.
Selain itu, Sumatera Selatan juga memiliki lebih dari 270 pondok pesantren yang dinilai berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui pengembangan usaha produktif dan pemberdayaan masyarakat.
Bambang menjelaskan, Bank Indonesia bersama berbagai pemangku kepentingan terus melakukan pembinaan terhadap usaha berbasis pesantren dan komunitas. Hingga saat ini, berbagai program telah dijalankan mulai dari pengembangan sektor pangan, diversifikasi usaha, penyediaan sarana air minum dalam kemasan, rumah potong ayam, hingga program ketahanan pangan berbasis komunitas.
“Kami terus mendorong agar pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Berbagai program telah kami sinergikan dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” katanya.
Dari sisi industri halal, Sumatera Selatan juga menunjukkan perkembangan positif. Sejak implementasi regulasi Jaminan Produk Halal, puluhan produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) telah memperoleh sertifikasi halal.
Menurut Bambang, sertifikasi halal menjadi nilai tambah yang dapat meningkatkan daya saing produk lokal, terutama untuk menjangkau pasar nasional maupun global yang semakin peduli terhadap produk halal.
“Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk-produk halal yang sudah tersertifikasi ini dapat dipromosikan dan dipasarkan lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital dan transformasi ekonomi berbasis digital,” ujarnya.
Bank Indonesia juga terus mengembangkan kerangka penguatan ekonomi syariah melalui sinergi dengan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, hingga komunitas masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan ekosistem ekonomi syariah di Sumatera Selatan dapat tumbuh lebih kuat, mampu menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
“Kunci keberhasilan pengembangan ekonomi syariah adalah sinergi. Ketika seluruh pihak bergerak bersama dan didukung transformasi digital, maka ekonomi syariah akan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Sumatera Selatan,” tutup Bambang. (vv)

















