Intinews | Petani di Kalijaran, Cilacap, mulai meninggalkan ketergantungan pada pompa diesel untuk mengairi lahan. Pertamina Patra Niaga memasang sistem irigasi yang memanfaatkan tenaga surya dan angin untuk mengalirkan air ke area pertanian warga.
Penggunaan energi baru terbarukan (EBT) itu bukan sekadar mengganti sumber listrik. Sistem tersebut langsung dipakai untuk kebutuhan sawah dan lahan hortikultura.
Lewat Program TJSL MAPAN (Masyarakat Pengelola Pertanian Berkelanjutan), Pertamina menggabungkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dengan total kapasitas 15.250 Wp.
Hasilnya, sistem irigasi mampu menghasilkan rata-rata 150.000 liter air per hari. Penggunaan energi tersebut juga diperkirakan menekan emisi hingga 2.860 kilogram CO₂eq per tahun.
Yang paling terasa bagi petani adalah biaya operasional.
Penggunaan pompa diesel bisa ditekan. Dari dua kali siklus tanam, penghematannya mencapai sekitar Rp9 juta.
VP Community Involvement Development Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, mengatakan teknologi EBT sengaja diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Kami ingin pemanfaatan energi terbarukan memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Dian.
Menurut dia, energi yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk mengairi lahan. Pemanfaatannya disambungkan dengan kegiatan pertanian dan usaha warga dari hulu sampai hilir.
“Di Kalijaran, energi terbarukan kami integrasikan dengan kebutuhan pertanian, mulai dari irigasi, produksi pangan, pengelolaan limbah, hingga pengembangan usaha masyarakat,” ujarnya.
Setelah air tersedia, kegiatan warga berlanjut ke produksi pertanian. Padi dan hortikultura menjadi bagian utama yang dikembangkan.
Hasil panen padi kemudian diolah. Gabah diproses menjadi beras, sementara dedak dimanfaatkan untuk pakan dan pupuk.
Limbah pertanian juga tidak dibiarkan begitu saja. Warga mengolahnya menjadi pupuk untuk kembali digunakan dalam kegiatan pertanian.
Pengembangan usaha kemudian diperluas ke perikanan dan budidaya bebek.
Produk pertanian warga juga mulai dibuat lebih beragam. Ada keripik, telur asin, beras hingga produk makanan pendamping ASI (MPASI).
Program MAPAN saat ini telah memberikan manfaat kepada 233 orang. Penerimanya berasal dari sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari petani gurem, petani perempuan, buruh tani harian, anak-anak dan balita hingga masyarakat miskin.
Pertamina juga menggandeng GAPOKTAN Margo Sugih, Kelompok Ternak Mintih Mulia, KWT Tandur Makmur dan KWT Mekar Jaya Lestari dalam pelaksanaannya.
Program tersebut tidak hanya dijalankan Pertamina. Pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat dan pihak lainnya ikut dilibatkan.
Total ada delapan stakeholder yang terlibat. Dari pelaksanaannya, dua kelompok baru juga terbentuk. Pertanian hortikultura bahkan mulai direplikasi di tiga area lahan.
Dian mengatakan keberlanjutan program menjadi perhatian karena teknologi saja tidak cukup jika tidak diikuti kemampuan masyarakat mengelolanya.
“Harapannya, Kalijaran dapat menjadi contoh bagaimana pemanfaatan EBT dapat berjalan beriringan dengan penguatan ketahanan pangan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Program MAPAN pada akhirnya tidak hanya bicara soal panel surya atau turbin angin. Energi yang dihasilkan dipakai untuk kebutuhan yang paling dekat dengan warga, yakni air, lahan, produksi pangan dan usaha.
Pertamina Patra Niaga mendorong pola tersebut terus dikembangkan melalui penguatan kelompok dan kerja sama dengan berbagai pihak.
Dengan begitu, pemanfaatan EBT di Kalijaran tidak berhenti sebagai proyek energi. Teknologi tersebut dipakai untuk menekan biaya produksi sekaligus menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat. (vv)

















