Intinews | Pempek DIVA Palembang tak lagi hanya melayani pembeli dari dalam kota. Usaha yang dirintis dari rumah sejak 2019 itu kini mengirim pempek hingga Papua, bahkan menembus pasar Malaysia.
Owner Pempek DIVA Palembang, Euis Novieliyani, mengatakan penjualan online menjadi salah satu kunci usaha tersebut bisa berkembang dan menjangkau konsumen di luar Palembang.
Namun, perluasan pasar itu juga membuat urusan pengiriman menjadi bagian penting dalam bisnisnya. Produk makanan khas Palembang harus sampai ke pelanggan dalam kondisi baik.
“Pelanggan sudah sampai Malaysia. Untuk Indonesia sudah sampai Papua, ” kata Euis saat menjadi narasumber dalam talkshow Media Gathering JNE Palembang di Agam Pisan Cafe Palembang, Kamis (10/9/2026).
Sejak awal menjalankan usaha, Euis memilih JNE untuk menangani pengiriman Pempek DIVA. Kerja sama itu berjalan sejak 2019 dan masih digunakan sampai sekarang.
Menurut Euis, harga bukan satu-satunya pertimbangan dalam menentukan jasa ekspedisi. Ia lebih melihat pelayanan dan tanggung jawab perusahaan ketika terjadi persoalan pada kiriman.
“Dari sisi harga memang banyak yang lebih murah, tapi kami lebih mengutamakan pelayanan JNE, kemudian tanggung jawabnya kalau ada apa-apa,” ujarnya.
Ia menyebut layanan pick up menjadi salah satu fasilitas yang cukup membantu kegiatan operasional Pempek DIVA. Produk yang sudah siap dikirim bisa langsung diambil dari lokasi produksi.
“Dengan adanya layanan pick up langsung ke lokasi pabrik sangat memudahkan kami dalam proses pengiriman harian,” katanya.
Bagi Euis, hal itu penting karena pengiriman merupakan bagian dari pelayanan kepada pembeli. Apalagi sebagian besar pelanggan Pempek DIVA berada di luar kota dan melakukan transaksi secara online.
“Selama kerja sama, JNE memberikan pelayanan yang terbaik, selalu responsif dan profesional. Dukungan dari JNE menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan penjualan online dan penjualan ke luar kota,” ungkapnya.
Kepercayaan terhadap jasa pengiriman juga berkaitan dengan kondisi produk ketika diterima konsumen. Euis menyebut tingkat retur pengiriman selama menggunakan JNE berada di angka sekitar satu persen.
“Sejauh ini JNE menjadi pilihan ekspedisi, dengan return hanya satu persen, ” ujarnya.
Pempek DIVA sendiri mengalami perkembangan cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Setelah sekitar tiga tahun menjalankan usaha dari rumah, Euis mulai membuka toko di kawasan Talang Jambe Palembang pada 2022.
Usaha tersebut kemudian berkembang dengan hadirnya cabang di kawasan Simpang Lima Pipa Reja Palembang. Pempek DIVA juga memperluas jangkauan hingga Bandar Lampung.
Produk yang dijual pun dikirim dalam berbagai jumlah sesuai kebutuhan pelanggan. Salah satu paket yang ditawarkan berisi 70 pempek dengan harga Rp100 ribu.
Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Pempek DIVA juga memberikan garansi apabila produk mengalami kerusakan selama proses pengiriman.
“Kalau pempek rusak, ada garansi diganti, ” tegas Euis.
Menurutnya, bagi usaha makanan yang mengandalkan penjualan melalui internet, jasa ekspedisi bukan sekadar pihak yang mengantarkan barang.
Pengiriman menjadi bagian dari pengalaman pelanggan. Jika barang datang terlambat atau rusak, persoalan tersebut bisa langsung berdampak pada kepercayaan konsumen terhadap produk.
Karena itu, Euis menilai kecepatan layanan, keamanan barang, kemudahan pick up dan respons ketika terjadi kendala menjadi hal yang tidak kalah penting dari harga pengiriman.
Dari usaha rumahan, Pempek DIVA kini mampu melayani konsumen lintas daerah. Pengalaman tersebut menunjukkan penjualan online membuka peluang bagi produk lokal Palembang untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Media Gathering JNE Palembang tersebut turut dihadiri Public Relation Region Sumatera JNE Khairul Tanjung, Branch Head JNE Palembang Shendy Maulana, Public Relation JNE Palembang Kevin Subakri, jajaran manajemen JNE serta rekan-rekan media. (vv)
















