Intinews | “Pukul enam pagi, matahari perlahan muncul dari balik Jembatan Ampera. Cahaya keemasan memantul di Sungai Musi, sementara suara mesin perahu ketek memecah kesunyian. Beberapa pedagang mulai membuka lapak di tepian sungai. Pemandangan seperti ini sebenarnya tidak kalah menarik dibanding matahari terbit di Pantai Sanur”.
Perbedaannya bukan pada pemandangannya, melainkan pada cara mengelolanya. Kekuatan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam atau kekayaan budaya, tetapi juga kemampuan mengelolanya menjadi pengalaman yang bernilai ekonomi. Di situlah pelajaran terbesar yang bisa dipetik Sumatera Selatan dari Bali.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara ke Sumatera Selatan sepanjang 2025 mencapai 26,07 juta perjalanan. Tingkat penghunian hotel berbintang juga berada di angka 55,48 persen. Aktivitas wisata memang terus tumbuh, tetapi sebagian besar perjalanan masih didominasi urusan bisnis, pemerintahan, dan kunjungan keluarga. Akibatnya, dampak ekonomi sektor pariwisata belum maksimal.
Masalah terbesar pariwisata Sumatera Selatan bukan kekurangan destinasi, melainkan belum mampu mengemasnya menjadi pengalaman wisata yang utuh.
Sepanjang 2025, Pulau Dewata menerima sekitar 7,05 juta wisatawan mancanegara atau hampir 46 persen dari total kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Devisa pariwisatanya diperkirakan mencapai Rp176 triliun atau sekitar 55 persen dari total nasional. Pada Mei 2025, tingkat penghunian hotel berbintang mencapai 58,10 persen dengan rata-rata lama tinggal wisatawan sekitar dua hingga tiga hari. Lebih dari 240 desa wisata juga terhubung dengan hotel, restoran, UMKM, serta komunitas lokal sehingga manfaat ekonomi menyebar hingga ke tingkat desa.
Keberhasilan itu tidak lahir dalam semalam. Bali membangun ekosistem pariwisata secara konsisten selama puluhan tahun hingga wisatawan memiliki alasan untuk datang kembali.
Padahal, Sumatera Selatan tidak kekurangan daya tarik. Ada Sungai Musi, jejak kejayaan Sriwijaya, Benteng Kuto Besak, Pulau Kemaro, Kampung Arab Al Munawar, Danau Ranau, Pagar Alam, hingga kekayaan kuliner dan budaya yang menjadi identitas daerah.
Masalah terbesar pariwisata Sumatera Selatan bukan kekurangan destinasi, melainkan belum mampu mengemasnya menjadi pengalaman wisata yang utuh.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar membangun destinasi baru, melainkan mengemas destinasi yang sudah ada menjadi perjalanan yang saling terhubung. Salah satu cara yang layak dicoba ialah menghubungkan seluruh destinasi itu melalui Musi Heritage Trail. Bukan sekadar jalur wisata, tetapi rangkaian pengalaman yang menghubungkan sejarah, budaya, sungai, dan kuliner dalam satu perjalanan. Musi Heritage Trail sebagai tulang punggung baru pariwisata Sumatera Selatan.
Wisatawan dapat memulai kunjungan dari Benteng Kuto Besak, menyusuri Sungai Musi dengan perahu wisata menuju Kampung Al Munawar dan Pulau Kemaro, lalu melanjutkan perjalanan ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, sentra kerajinan songket, hingga menikmati kuliner khas Palembang. Seluruh rangkaian itu didukung sistem reservasi digital, informasi terpadu, dan promosi bersama sehingga wisatawan terdorong menghabiskan waktu dua hingga tiga hari, bukan sekadar singgah beberapa jam.
Pendekatan serupa juga dapat diterapkan di daerah lain melalui pengembangan desa wisata. Pagar Alam dengan wisata kopi, kawasan Danau Ranau, maupun desa budaya di Musi Rawas memiliki peluang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Homestay yang layak, pemandu wisata yang terlatih, serta UMKM yang kuat akan membuat manfaat pariwisata dirasakan lebih luas.
Integrasi layanan digital juga menjadi kebutuhan. Wisatawan idealnya dapat membeli tiket, memesan perahu wisata, hingga menemukan rumah makan atau galeri songket melalui satu platform.Pengalaman seperti itu akan membuat perjalanan jauh lebih mudah. Pada saat yang sama, pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan media perlu menyusun kalender acara sepanjang tahun, mulai dari Festival Sriwijaya, festival Sungai Musi, perlombaan perahu tradisional, hingga festival kuliner. Agenda yang berkelanjutan akan memberi alasan bagi wisatawan untuk kembali berkunjung.
Bali membuktikan bahwa pariwisata berkembang bukan hanya karena pemerintah, melainkan karena seluruh pemangku kepentingan bergerak dalam arah yang sama. Kolaborasi seperti itulah yang perlu dibangun di Sumatera Selatan.
Jika langkah tersebut dijalankan secara konsisten, manfaatnya tidak berhenti pada kenaikan jumlah wisatawan. Lama tinggal akan meningkat, belanja di hotel, restoran, transportasi, ekonomi kreatif, dan UMKM ikut bertambah, sementara lapangan kerja baru tumbuh di berbagai daerah tujuan wisata. Pariwisata pun dapat menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah.
Pada akhirnya, wisatawan tidak datang hanya untuk melihat sebuah tempat. Bali menjadi bukti bahwa wisatawan tidak kembali hanya karena pemandangannya. Mereka datang lagi karena pengalaman yang mereka bawa pulang. Sumatera Selatan sudah memiliki sejarah, sungai, budaya, dan kuliner. Tantangannya bukan lagi mencari destinasi baru, melainkan mengemas semuanya menjadi pengalaman yang membuat wisatawan ingin kembali.
Mengapa Bali Lebih Maju?
Objek Wisata : ★★★★★
Integrasi Destinasi : ★★★★★
Digitalisasi : ★★★★★
Kalender Event : ★★★★★
Desa Wisata : ★★★★★
Sumsel
Objek Wisata : ★★★★★
Integrasi Destinasi : ★★☆☆☆
Digitalisasi : ★★☆☆☆
Kalender Event : ★★★☆☆
Desa Wisata : ★★★☆☆





















