Intinews | Kotoran sapi yang selama ini identik dengan limbah peternakan kini menjadi sumber energi sekaligus penopang usaha warga Desa Rejo Basuki, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah. Melalui program BEJO SUKI (Berdikari melalui Biogas Kampung Rejo Basuki), masyarakat memanfaatkan biogas untuk memasak dan memproduksi makanan, sekaligus mengolah limbah ternak menjadi pupuk organik.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) melalui Integrated Terminal (IT) Panjang tersebut telah berjalan sejak 2022. Hingga kini, sebanyak 16 instalasi biogas telah dikembangkan dan dimanfaatkan oleh 16 kepala keluarga dengan memanfaatkan kotoran dari 63 ekor sapi.
Manfaatnya tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan energi rumah tangga. IKM Mulya, salah satu usaha yang memanfaatkan biogas, menggunakannya untuk mendukung produksi keripik, nasi tiwul, tepung mocaf, dan berbagai olahan pangan lainnya.
Penggunaan biogas turut menghemat biaya pembelian LPG 3 kilogram hingga Rp1.008.000 per tahun. Di sisi lain, usaha tersebut mampu mencatat omzet hingga Rp180 juta per tahun.
Titik, salah satu penerima manfaat program, mengatakan biogas membantu kelompok ibu-ibu menjalankan kegiatan produksi makanan yang dipasarkan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, biogas ini membantu kami memasak untuk produksi keripik, nasi tiwul, tepung mocaf, dan produk lainnya. Kami bisa memanfaatkan potensi yang ada di sekitar untuk mendukung kegiatan usaha sehari-hari,” ujar Titik.
Selain membantu kegiatan usaha, pemanfaatan kotoran sapi juga mendukung sektor pertanian. Pengolahan limbah peternakan melalui program ini tercatat mencapai 189.000 kilogram per tahun. Sementara itu, pemanfaatan bio-slurry atau residu hasil pengolahan biogas mendukung pengelolaan lahan sawah seluas 25,5 hektare.
Program tersebut juga menghasilkan pupuk organik hingga 2.268.000 kilogram per tahun. Dengan pengolahan yang tepat, limbah peternakan dapat dimanfaatkan kembali untuk menunjang kegiatan pertanian masyarakat.
Potensi ini sejalan dengan besarnya sektor peternakan di Lampung Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2026, populasi sapi di kabupaten tersebut mencapai 404.713 ekor. Jumlah itu menjadi salah satu potensi untuk mengembangkan pemanfaatan limbah ternak sebagai sumber energi alternatif dan bahan pendukung pertanian.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, mengatakan program BEJO SUKI diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lokal agar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Harapannya, masyarakat semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi sekaligus memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, ” ujar Rusminto.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel menyatakan program BEJO SUKI sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian energi dan mendorong pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama Tujuan 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, Tujuan 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim. (vv)

















