Intinews | Laju inflasi di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pada Mei 2026 masih berada dalam kondisi yang terkendali. Berdasarkan data terbaru, inflasi tahunan Sumsel tercatat sebesar 2,61 persen (year on year/yoy), meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 1,63 persen (yoy), namun tetap lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,08 persen (yoy).
Sementara secara bulanan, Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,61 persen (month to month/mtm), berbalik dari kondisi April 2026 yang mencatat deflasi sebesar 0,04 persen (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono menjelaskan, stabilitas harga di Sumatera Selatan masih terjaga dengan baik, sekaligus mencerminkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah bersama Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Kondisi inflasi yang tetap berada dalam rentang sasaran menunjukkan bahwa keseimbangan antara kepentingan produsen dan daya beli masyarakat masih dapat terjaga. Ini menjadi indikator penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah,” jelas Bambang.
Cabai Merah dan Bawang Merah Jadi Penyumbang Utama
Peningkatan inflasi pada Mei 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura yang mengalami lonjakan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.
Komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar antara lain cabai merah sebesar 0,18 persen, bawang merah 0,10 persen, tomat 0,06 persen, cabai rawit 0,04 persen, dan ketimun sebesar 0,04 persen.
Meningkatnya permintaan masyarakat terjadi di tengah pasokan yang relatif terbatas akibat faktor cuaca yang memengaruhi produksi pertanian. Selain itu, distribusi barang juga sempat mengalami kendala selama periode cuti bersama dan libur nasional pada Mei 2026.
Meski demikian, kondisi tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara.
Inflasi Juni Diprediksi Melandai
Bank Indonesia memproyeksikan tekanan inflasi pada Juni 2026 akan cenderung menurun seiring mulai stabilnya harga sejumlah komoditas hortikultura serta membaiknya pasokan pangan di berbagai daerah.
Namun demikian, terdapat sejumlah faktor yang tetap perlu diwaspadai, seperti meningkatnya mobilitas masyarakat selama masa libur sekolah, pencairan gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga kenaikan tarif angkutan udara yang masih berlangsung.
Ketiga faktor tersebut berpotensi mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga yang dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi dalam jangka pendek.
Lebih dari 342 Operasi Pasar Digelar
Untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan, TPID Sumatera Selatan terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Hingga akhir Mei 2026, tercatat lebih dari 342 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah dilaksanakan di berbagai wilayah Sumatera Selatan.
Selain itu, puluhan inspeksi mendadak (sidak) pasar juga dilakukan guna memastikan ketersediaan stok bahan pokok sekaligus mengawasi penerapan harga eceran tertinggi di lapangan.
Penguatan koordinasi antarinstansi terus dilakukan agar masyarakat memperoleh akses pangan yang cukup dengan harga yang terjangkau.
BI Sumsel Fasilitasi Subsidi Angkut Pangan
Sebagai langkah konkret menjaga kelancaran distribusi pangan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan juga memberikan fasilitasi subsidi ongkos angkut bagi berbagai komoditas strategis.
Hingga Mei 2026, tercatat sebanyak 77 kali fasilitasi subsidi distribusi telah diberikan dengan total komoditas pangan yang diangkut mencapai sekitar 47,92 ton.
Program tersebut dinilai efektif membantu menjaga ketersediaan pasokan sekaligus menekan kenaikan harga di wilayah yang mengalami keterbatasan distribusi.
Selain itu, Kerja Sama Antar Daerah (KAD) juga terus diperkuat untuk menjamin pasokan komoditas strategis, termasuk bawang merah yang menjadi salah satu penyumbang inflasi terbesar selama Mei 2026.
GSMP Jadi Andalan Perkuat Ketahanan Pangan
Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan daerah terus didorong melalui berbagai program inovatif, salah satunya Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP).
Pada tahun ini, program tersebut diperluas melalui kolaborasi bersama pondok pesantren dan koperasi sebagai bagian dari penguatan ekosistem produksi dan distribusi pangan lokal.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kemandirian pangan masyarakat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Upaya tersebut juga sejalan dengan berbagai program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini terus didorong pemerintah sebagai bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. (vv)

















