Intinews | Stabilitas inflasi di Provinsi Sumatera Selatan tetap terjaga sepanjang periode Ramadan hingga Idulfitri 1447 H. Berdasarkan data terbaru, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,29%, menurun dibandingkan Februari yang mencapai 0,58%.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Sumsel juga menunjukkan tren penurunan menjadi 3,09%, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 4,36% dan berada di bawah inflasi nasional yang tercatat 3,48%.
Penurunan inflasi ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, seperti koreksi harga emas, pemberian subsidi ongkos angkutan umum, serta kebijakan tarif jalan tol yang lebih terkendali.
Meski secara umum melandai, tekanan inflasi bulanan tetap dipicu oleh kenaikan harga sejumlah komoditas strategis. Daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,06%, diikuti bensin (0,03%) dan telur ayam ras (0,03%).
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Selatan, Bambang Pramono menyampaikan, kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri.
“Kenaikan harga pada periode HBKN merupakan pola musiman. Namun, koordinasi yang kuat membuat dampaknya tetap terkendali dan tidak melampaui target inflasi”, terang Bambang.
Selain itu, sektor transportasi turut memberikan kontribusi terhadap inflasi. Tarif angkutan antarkota dan kendaraan travel masing-masing menyumbang 0,02%, dipengaruhi oleh tingginya mobilitas masyarakat selama periode mudik.
Memasuki April 2026, tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut. Hal ini dipengaruhi oleh normalisasi tarif jasa dan transportasi setelah periode mudik, serta belum pulihnya distribusi secara optimal.
Di sisi lain, berakhirnya momentum Idulfitri mulai menurunkan permintaan, meskipun harga masih relatif tinggi.
Lanjut Bambang, faktor cuaca juga menjadi perhatian. Curah hujan dengan pola lokal selama masa pancaroba berpotensi mengganggu produksi dan distribusi pangan.
“Ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi harus terus dijaga, terutama di tengah potensi gangguan cuaca dan dinamika permintaan,” lanjutnya.
Komoditas seperti telur, daging ayam, bawang, dan cabai menjadi fokus utama dalam menjaga kestabilan harga ke depan.
Dalam menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat strategi berbasis 4K, yaitu: Keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif
Hingga akhir Maret 2026, berbagai langkah konkret telah dilakukan, di antaranya: 145 kegiatan operasi pasar murah, 32 inspeksi mendadak (sidak) pasar dan 77 kali subsidi ongkos angkut untuk komoditas pangan
Total komoditas yang didistribusikan mencapai sekitar 47,92 ton, sebagai upaya menjaga pasokan tetap stabil dan harga terjangkau.
Penguatan koordinasi juga dilakukan melalui forum komunikasi rutin antara pemerintah pusat dan daerah, serta kampanye publik terkait belanja bijak.
Di tingkat lokal, program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) terus didorong, termasuk kolaborasi dengan pesantren dan koperasi dalam memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.
Ke depan, sinergi antara pemerintah daerah dan otoritas moneter akan terus diperkuat untuk memastikan inflasi tetap dalam sasaran nasional, antara lain dengan peningkatan produktivitas sektor pertanian, penguatan ketahanan pangan dan dukungan terhadap program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis
“Kami optimistis inflasi Sumatera Selatan akan tetap terkendali, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” tutup Bambang.
Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan koordinasi lintas sektor, Sumatera Selatan dinilai mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global. (vv)

















