Intinews | Peran strategis Kilang Plaju kembali ditegaskan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian Sumatera Selatan. Tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi energi, kilang ini juga memberikan dampak luas terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, mulai dari kontribusi fiskal hingga pemberdayaan pelaku usaha lokal.
Hal tersebut disampaikan General Manager RU III PT Pertamina Patra Niaga, Khabibullah Khanafie, dalam Forum Bisnis Daerah (Forbisda) yang diselenggarakan oleh BPD HIPMI Sumatera Selatan beberapa waktu lalu. Dalam forum bertema Summit of Synergy itu, ia memaparkan kontribusi nyata Kilang Plaju terhadap pembangunan daerah.
“Kilang Plaju bukan sekadar fasilitas produksi, tetapi juga menjadi engine of growth bagi Sumatera Selatan. Kontribusi pajak dan retribusi yang kami bayarkan menjadi salah satu sumber penting bagi pembiayaan pembangunan infrastruktur dan layanan publik,” ujar Khanafie.
Ia menjelaskan, hingga periode year to date (YTD) 2025, Kilang Plaju mencatat kontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah. Selain itu, operasional kilang juga menciptakan efek berganda melalui penyerapan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi turunan lainnya.
Dengan kapasitas produksi mencapai 120 ribu barel per hari, Kilang Plaju menyumbang sekitar 12 persen dari total kapasitas kilang nasional. Produksi tersebut menjadi tulang punggung pasokan energi di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel).
Distribusi energi dari kilang ini menjangkau berbagai daerah strategis, termasuk Palembang, Lubuk Linggau, Baturaja, Lahat, hingga provinsi lain seperti Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung. Posisi ini menjadikan Kilang Plaju sebagai simpul penting dalam menjaga ketahanan energi regional.
Dari sisi ketenagakerjaan, kilang ini melibatkan ratusan pekerja tetap serta ribuan tenaga kerja mitra dan kontrak. Mayoritas tenaga kerja tersebut berasal dari masyarakat lokal, yang secara langsung turut merasakan manfaat ekonomi dari keberadaan industri ini.
“Kami memastikan operasional kilang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar, terutama dalam hal penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan,” tambahnya.
Tak hanya itu, perusahaan juga aktif melibatkan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok. Tercatat ratusan vendor dari wilayah Sumbagsel telah bermitra, membuka peluang bisnis sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi daerah.
Di sektor sosial dan lingkungan, berbagai program tanggung jawab sosial terus dijalankan, mulai dari pembinaan UMKM, pemberdayaan masyarakat, hingga program berbasis lingkungan. Ribuan warga telah merasakan manfaat dari inisiatif ini.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara kinerja bisnis dan tanggung jawab sosial. Ke depan, sinergi antara dunia usaha dan pemerintah diharapkan semakin kuat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di Sumatera Selatan. (vv)

















