Intinews | Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumatera Selatan tidak hanya berbicara soal inflasi dan stabilitas rupiah dalam penyelenggaraan Sriwijaya Economic Forum (SEF) 2026. Melalui agenda Bedah Buku dan Presentasi Finalis Call for Applicative Essay, BI membuka ruang bagi akademisi, mahasiswa, pelaku usaha hingga komunitas literasi untuk menawarkan gagasan yang dapat diterapkan dalam pembangunan ekonomi daerah.
Forum yang berlangsung di Hotel Harper Palembang, Rabu (29/7/2026), itu menjadi salah satu rangkaian 3rd Sriwijaya Economic Forum (SEF) 2026. Sejak pagi, peserta dari berbagai kalangan memenuhi ruang pertemuan untuk mengikuti bedah buku, diskusi, hingga presentasi karya ilmiah yang mengangkat isu pembangunan ekonomi Sumatera Selatan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono mengatakan peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari budaya literasi. Menurutnya, literasi harus menghasilkan cara berpikir yang kritis dan mampu melahirkan solusi atas persoalan pembangunan.
“Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca, tetapi juga sebagai kemampuan berpikir kritis, menganalisis berbagai tantangan, serta menghasilkan solusi yang dapat diimplementasikan untuk menjawab kebutuhan pembangunan daerah,” kata Bambang.
Di hadapan peserta, Bambang juga memaparkan kondisi ekonomi terkini. Ia menyebut ekonomi Sumatera Selatan masih menunjukkan ketahanan meski tekanan global belum sepenuhnya mereda.
Data Bank Indonesia mencatat, perekonomian Sumsel pada Triwulan I 2026 tumbuh 5,34 persen secara tahunan (year on year). Pada saat yang sama, laju inflasi tetap berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah bersama Bank Indonesia.
Menurut Bambang, tantangan berikutnya bukan sekadar menjaga pertumbuhan, melainkan meningkatkan nilai tambah dari potensi yang dimiliki daerah. Karena itu, hilirisasi komoditas unggulan seperti batu bara, kelapa sawit, dan kelapa dinilai menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing ekonomi Sumatera Selatan.
Selain memaparkan perkembangan ekonomi, Bank Indonesia memanfaatkan forum tersebut untuk memberikan edukasi mengenai Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, digitalisasi sistem pembayaran, serta pelindungan konsumen kepada peserta.
Suasana forum kemudian berlanjut pada sesi bedah buku yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang.
Narasumber dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sekaligus President ASEAN Public Libraries Information Network (APLiN), Chaerul Umam, mengajak peserta melihat peran perpustakaan dari perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, perpustakaan harus mampu bertransformasi menjadi ruang belajar dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di era digital. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia menekankan empat pendekatan, yakni relevansi, teknologi, sosial, dan solusi.
Sementara itu, penulis buku From Zero to Survive: Seni Menang dalam Hidup dengan Realistis, Theo Derrick, membagikan pengalaman membangun usaha dari titik nol.
Theo menilai ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan keberanian menghadapi keterbatasan menjadi modal utama untuk bertahan di tengah perubahan yang berlangsung cepat.
Puluhan Gagasan Dipresentasikan
Pada waktu yang sama, ruang lain di Hotel Harper menjadi tempat berlangsungnya presentasi final Call for Applicative Essay 3rd Sriwijaya Economic Forum 2026.
Finalis dari kategori umum maupun sivitas akademika mempresentasikan hasil kajian di hadapan dewan juri. Beragam ide ditawarkan, mulai dari penguatan ekonomi daerah, peningkatan daya saing, hingga rekomendasi kebijakan yang dinilai dapat diterapkan untuk mendukung pembangunan Sumatera Selatan.
Melalui kompetisi tersebut, Bank Indonesia berupaya menjaring lebih banyak perspektif dari kalangan akademisi maupun masyarakat sehingga rekomendasi yang dihasilkan tidak berhenti sebagai kajian, tetapi dapat menjadi masukan bagi para pemangku kebijakan.
Bambang mengatakan pembangunan ekonomi membutuhkan kolaborasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi profesi, dan masyarakat.
“Kami berharap Sriwijaya Economic Forum menjadi ruang kolaborasi yang mampu melahirkan inovasi kebijakan, memperkuat literasi, serta mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Rangkaian Sriwijaya Economic Forum 2026 masih akan berlanjut melalui sejumlah agenda yang mengangkat isu ekonomi regional. Berbagai rekomendasi yang lahir dari forum tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan pembangunan yang lebih adaptif terhadap dinamika ekonomi.

















