Intinews | Uang yang masuk untuk menopang ekosistem kelapa di Sumatera Selatan sudah mencapai Rp185,88 miliar. OJK Sumsel kini mendorong pembiayaan itu tidak berhenti di petani. Pengolahan, investasi, pemasaran sampai ekspor ikut dibidik.
Potensinya memang besar. Sumatera Selatan memiliki sekitar 68 ribu hektare lahan kelapa dengan produksi lebih dari 61 ribu ton. Banyuasin menjadi salah satu sentra utamanya.
Angka-angka itu ikut dibicarakan dalam Musyawarah Nasional (Munas) II Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) di Palembang, Selasa (23/9/2026).
Tema yang dibawa, “Akselerasi dan Sinergi Pengembangan Komoditas Kelapa Melalui Akses Keuangan”.
Di tengah besarnya produksi tersebut, persoalannya kemudian bergeser. Kelapa tidak cukup hanya dipanen lalu dijual sebagai bahan mentah. Ada rantai usaha yang masih bisa diperpanjang agar nilai ekonominya lebih banyak dinikmati petani.
Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, EPK, LMSt OJK Sumsel, Tito Adji Siswantoro mengatakan, OJK mendorong pola closed loop. Petani, industri pengolahan, eksportir, lembaga keuangan dan pasar dibuat saling terhubung.
“OJK mendorong pengembangan komoditas kelapa melalui pendekatan ekosistem closed loop yang menghubungkan petani dan kelompok tani, industri pengolahan, eksportir, lembaga jasa keuangan hingga pasar. Melalui sinergi ini, akses pembiayaan tidak berhenti pada petani, tetapi menjangkau seluruh mata rantai usaha, mulai dari produksi, pengolahan, investasi hingga pemasaran dan ekspor, ” kata Tito.
Saat ini, kata Tito, dukungan pembiayaan dalam ekosistem closed loop kelapa di Sumatera Selatan sudah mencapai Rp185,88 miliar.
“Kami berharap penguatan akses keuangan ini dapat menjadi daya ungkit bagi hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas kelapa Sumatera Selatan,” kata Tito.
Kelapa sendiri punya banyak turunan.
Selain buah dan kopra, komoditas ini bisa masuk ke berbagai produk olahan. Mulai minyak kelapa, VCO, santan, tepung kelapa hingga pemanfaatan sabut dan tempurung.
Plt. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, M. Ichwansyah, S.P., M.Si mengatakan, potensi tersebut yang perlu ditarik lebih jauh ke sektor industri.
“Potensi kelapa Sumatera Selatan tidak berhenti pada buah kelapa dan kopra. Berbagai bagian kelapa dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, mulai dari minyak kelapa, VCO, santan, tepung kelapa, sabut, arang tempurung hingga produk industri lainnya., ” ujar Ichwansyah.
Menurut Ichwansyah, pengembangan kelapa tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Industri yang tumbuh juga membutuhkan kepastian bahan baku dan pasar, sementara petani membutuhkan kepastian siapa yang menyerap hasil produksinya.
“Karena itu, pengembangan kelapa harus dibangun dalam satu ekosistem industri dari hulu hingga hilir, sehingga investasi dan hilirisasi yang tumbuh benar-benar memberikan kepastian pasar, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan nilai ekonomi yang diterima petani, ” tambahnya.
Munas II PERPEKINDO kemudian menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kepentingan tersebut. Pemerintah, OJK, industri jasa keuangan, petani, pelaku usaha dan eksportir berada dalam rantai yang sama.
Dengan 68 ribu hektare lahan dan produksi lebih dari 61 ribu ton, pekerjaan berikutnya bukan sekadar menambah produksi kelapa Sumsel.
Pasarnya harus ada. Industri pengolahannya harus jalan. Dan petani harus bisa masuk ke rantai bisnis itu, bukan hanya berada di ujung sebagai pemasok bahan mentah. (vv)

















