Intinews | Empat perusahaan asal Sumatera Selatan mencatatkan sembilan kesepakatan perdagangan internasional dengan potensi nilai Rp501,40 miliar dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Dari jumlah itu, PT Awan Crackers Food Indonesia membukukan lima kesepakatan senilai Rp239,40 miliar, termasuk perdagangan kerupuk dengan mitra asal Belanda sebesar Rp180,40 miliar per tahun.
Total kesepakatan tersebut meningkat dari Rp306,34 miliar yang diumumkan pada 17 Oktober 2026. Tambahan dua kerja sama PT Awan Crackers Food Indonesia dengan mitra dari Belanda dan Arab Saudi menjadi pendorong kenaikan nilai perdagangan hingga penutupan TEI ke-41 pada 18 Oktober 2026.
Kesepakatan dengan Ben Hellen Trading asal Belanda mencapai USD10 juta atau setara Rp180,40 miliar per tahun. Sementara itu, kerja sama dengan Al Ittifaq dari Arab Saudi mencapai USD811.920 atau sekitar Rp14,65 miliar per tahun.
Tiga kesepakatan lainnya melibatkan mitra dari Tiongkok dan Taiwan, masing-masing untuk perdagangan kerupuk, lada hitam, dan lada putih.
Selain Awan Crackers, tiga perusahaan lain yang terlibat yakni PT Razade Coconut Indonesia, PT Fornax Charcoal International, dan PT Agri Ekspor Indonesia.
PT Razade Coconut Indonesia menjalin dua kerja sama perdagangan kelapa segar dengan mitra asal Tiongkok senilai USD9 juta per tahun. PT Fornax Charcoal International mencatatkan kesepakatan arang tempurung kelapa dengan mitra Rusia senilai USD5 juta hingga akhir 2027.
Sementara PT Agri Ekspor Indonesia menjalin kerja sama perdagangan biji kopi dengan mitra asal Rusia senilai USD523.392 hingga akhir 2027.
Secara keseluruhan, sembilan kesepakatan tersebut memiliki nilai potensial USD26.335.312 dan Rp26,314 miliar, atau setara sekitar Rp501,40 miliar dengan asumsi kurs Rp18.040 per dolar AS.
Penandatanganan kesepakatan yang diumumkan sebelumnya, termasuk kerja sama PT Awan Crackers Food Indonesia, turut disaksikan Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dalam rangkaian TEI 2026.
Capaian ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem 100.000 Sultan Muda Sumsel yang melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sumsel, serta industri jasa keuangan.
Dalam kolaborasi tersebut, Pemprov Sumsel melalui Dinas Perdagangan mendukung promosi produk unggulan dan perluasan akses pasar ekspor. OJK bersama industri jasa keuangan mendorong akses pembiayaan dan pemanfaatan layanan keuangan bagi pelaku usaha, sedangkan HIPMI memperkuat jejaring bisnis antarpengusaha.
Produk kerupuk, kelapa, kopi, dan rempah-rempah menjadi komoditas yang dibawa pengusaha muda Sumsel dalam menjajaki pasar internasional.
Meski demikian, nilai Rp501,40 miliar tersebut masih berupa potensi kesepakatan dagang. Tindak lanjut berupa kontrak perdagangan dan realisasi ekspor menjadi tahap berikutnya untuk memastikan kerja sama tersebut benar-benar menghasilkan transaksi. (vv)

















