Intinews | Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan anggaran Rp596,4 miliar untuk menjalankan 51 rencana kerja pada 2027. BEI juga menargetkan rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp21 triliun, naik dari realisasi Rp20,5 triliun per 23 Oktober 2026.
Rencana tersebut disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) BEI 2026, Rabu (28/10/2026). Rapat yang dihadiri 88 pemegang saham atau 98,88 persen dari pemilik hak suara itu menyetujui tiga agenda utama, termasuk perubahan anggaran dasar untuk demutualisasi bursa.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, pengembangan pasar modal akan diarahkan pada penguatan transparansi, perlindungan investor, likuiditas, serta pengembangan produk dan infrastruktur perdagangan.
“BEI terus berupaya memperkuat kualitas pasar modal Indonesia melalui peningkatan transparansi, perlindungan investor, penguatan likuiditas, serta pengembangan produk dan infrastruktur pasar,” ujar Jeffrey.
Dalam rencana kerja 2027, BEI menetapkan target pencatatan 905 efek baru, mencakup saham, efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta efek lainnya. Jumlah investor aktif bulanan ditargetkan rata-rata 1,3 juta.
Sebagai pembanding, hingga 23 Oktober 2026, BEI telah mencatatkan 877 efek baru. Sementara itu, jumlah investor aktif bulanan mencapai 1.388.494 investor.
Anggaran Rp596,4 miliar tersebut menjadi bagian dari fase Fundamental Reinvention dalam Master Plan BEI 2026–2030. Alokasi terbesar diarahkan pada penguatan dan optimalisasi aset teknologi informasi.
Dari sisi keuangan, BEI memproyeksikan pendapatan 2027 sebesar Rp2,59 triliun, tumbuh 14,16 persen dibandingkan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 revisi. Pendapatan diperkirakan ditopang aktivitas transaksi efek, jasa pencatatan, dan layanan data kebursaan.
Laba bersih diproyeksikan mencapai Rp563,90 miliar atau meningkat 22,76 persen dibandingkan RKAT 2026 revisi. Adapun total aset diperkirakan sebesar Rp9,12 triliun, dengan ekuitas Rp7,66 triliun.
BEI juga menganggarkan belanja investasi Rp670,62 miliar, naik 161,82 persen dibandingkan anggaran revisi tahun sebelumnya. Dana tersebut disiapkan untuk mendukung pengelolaan infrastruktur dan pengembangan bisnis.
Demutualisasi Bursa
Selain menyetujui RKAT 2027, pemegang saham menyepakati perubahan anggaran dasar perseroan dalam rangka demutualisasi bursa. Perubahan tersebut disiapkan untuk menyesuaikan ketentuan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 13 Tahun 2026 tentang Pemegang Saham Bursa Efek.
BEI menyatakan tetap berkomitmen menjaga independensi dalam persiapan hingga pelaksanaan demutualisasi. Perubahan anggaran dasar itu baru berlaku setelah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan memenuhi ketentuan administrasi dari Menteri Hukum.
Dalam rapat yang sama, pemegang saham menyetujui penggunaan saldo laba ditahan berdasarkan laporan keuangan auditan per 30 Juni 2026. Sebesar Rp2 triliun dialokasikan sebagai dana cadangan operasional dan pengembangan perseroan setelah persyaratan persetujuan terpenuhi.
BEI juga menyetujui pembagian dividen khusus tunai senilai total Rp1,564 triliun kepada pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham pada 27 Oktober 2026.
Sepanjang 2026, BEI telah melakukan sejumlah perubahan pada mekanisme perdagangan dan pengembangan produk investasi. Di antaranya penyesuaian minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1, penerapan Intraday Short Selling (IDSS), penyempurnaan ketentuan Papan Pemantauan Khusus, serta peluncuran ETF Emas.
Jeffrey menyatakan, berbagai inisiatif tersebut akan dilanjutkan melalui rencana kerja yang telah disusun dengan memperhatikan tata kelola dan kebutuhan pemangku kepentingan pasar modal. (vv)

















