Intinews | Laju inflasi di Provinsi Sumatera Selatan pada Juni 2026 masih berada dalam kondisi yang terkendali meski sejumlah harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi, berkurangnya pasokan komoditas hortikultura, serta meningkatnya aktivitas masyarakat selama libur sekolah menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga pada bulan lalu.
Berdasarkan data Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, inflasi Juni tercatat 0,36 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 0,61 persen. Sementara secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Sumsel berada di angka 2,89 persen, sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar 2,61 persen.
Kepala Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono menjelaskan, meski mengalami kenaikan, angka tersebut masih menunjukkan kondisi harga yang relatif stabil dan berada dalam kisaran yang mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
“Inflasi yang tetap terkendali mencerminkan efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah. Stabilitas harga yang terjaga diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan daya beli masyarakat,” jelas Bambang pada keterangan pers-nya , Selasa (1/7/2026).
BBM dan Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Inflasi
Bank Indonesia mencatat kenaikan inflasi Juni terutama berasal dari kelompok energi dan pangan.
Bensin menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,19 persen, menyusul penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku sejak 10 Juni 2026.
Selain itu, harga bawang putih memberikan andil 0,07 persen, tomat 0,07 persen, bawang merah 0,05 persen, serta beras 0,04 persen.
Menurut BI, kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan tomat dipengaruhi berkurangnya pasokan akibat dampak El Niño yang menurunkan produktivitas di sejumlah sentra pertanian.
Tekanan harga juga meningkat karena konsumsi rumah tangga cenderung naik selama masa libur sekolah.
Di sisi lain, inflasi tidak melonjak lebih tinggi karena adanya penurunan harga emas seiring membaiknya kondisi ekonomi global. Normalisasi harga daging ayam ras dan telur ayam ras setelah penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah juga ikut menahan laju inflasi.
Juli Diperkirakan Masih Mengalami Tekanan
Bank Indonesia memperkirakan tekanan inflasi masih berlanjut pada Juli 2026.
Selain meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang tahun ajaran baru, kelompok pendidikan dan transportasi diperkirakan akan mengalami kenaikan permintaan.
Musim kemarau yang diprediksi lebih kering juga berpotensi memengaruhi produksi hortikultura sehingga perlu diantisipasi sejak dini. Efek lanjutan dari penyesuaian harga BBM nonsubsidi juga masih menjadi faktor yang akan memengaruhi perkembangan inflasi dalam beberapa waktu ke depan.
Ratusan Operasi Pasar Digelar
Untuk menjaga harga tetap stabil, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus mengoptimalkan strategi pengendalian melalui empat langkah utama, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi kepada masyarakat.
Hingga akhir Juni 2026, TPID telah melaksanakan lebih dari 358 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai kabupaten dan kota di Sumsel.
Tidak hanya itu, pemerintah bersama instansi terkait juga rutin melakukan inspeksi mendadak ke pasar-pasar tradisional guna memastikan stok pangan tersedia dan harga tetap sesuai ketentuan.
Distribusi Pangan Terus Diperkuat
Bank Indonesia Sumsel juga memperkuat distribusi bahan pangan melalui program subsidi ongkos angkut.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, tercatat 77 kali fasilitasi distribusi telah diberikan dengan total komoditas pangan yang diangkut mencapai sekitar 47,92 ton.
Program tersebut bertujuan menjaga pasokan tetap tersedia di berbagai daerah sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Kerja Sama Antar Daerah Diperluas
Upaya menjaga pasokan pangan juga dilakukan melalui Kerja Sama Antar Daerah (KAD).
Salah satunya diwujudkan melalui pengadaan bibit bawang merah dari Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang dimanfaatkan sebagai lahan percontohan di Kota Pagar Alam.
Selain itu, hingga Juni 2026 Sumsel telah merealisasikan pasokan 22,67 ton bawang merah dari Sumatera Barat dan 3,68 ton cabai dari Jawa Tengah.
Penguatan kerja sama juga dilakukan melalui penandatanganan 8 Kesepakatan Bersama (KSB) dan 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) antarpemerintah daerah, serta 4 kerja sama Business to Business (B2B) untuk mendukung kelancaran distribusi komoditas pangan strategis.
Di saat yang sama, koordinasi antar-TPID terus ditingkatkan melalui rapat rutin, edukasi kepada masyarakat, hingga studi tiru bersama TPID Sulawesi Selatan ke Jawa Tengah guna mempelajari berbagai inovasi pengendalian inflasi.
Ketahanan Pangan Jadi Fokus Bersama
Selain menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terus memperkuat ketahanan pangan melalui Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP).
Lanjut Bambang, tahun ini, program tersebut diperluas dengan melibatkan pesantren dan koperasi agar menjadi bagian dari ekosistem produksi sekaligus distribusi pangan di daerah.
“Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi agar stabilitas harga tetap terjaga, ketahanan pangan semakin kuat, serta pertumbuhan ekonomi daerah dapat berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan. Langkah ini juga mendukung pelaksanaan program prioritas nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis,” tutup Bambang. (vv)

















