Intinews | Sebanyak 200 pelaku usaha menengah disiapkan untuk mengenal dan memanfaatkan pasar modal sebagai alternatif sumber pendanaan jangka panjang. Upaya tersebut dilakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kementerian UMKM melalui peluncuran Go Public Academy for SMEs di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Program ini menyasar perusahaan yang berpotensi berkembang menjadi perusahaan terbuka melalui peningkatan kapasitas usaha, pembenahan tata kelola, hingga pendampingan persiapan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Sekretaris Kementerian UMKM, Loto Srinaita Ginting mengatakan, usaha menengah memiliki posisi penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, untuk berkembang menjadi perusahaan berskala lebih besar, pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan tambahan modal.
Perusahaan juga harus memperkuat tata kelola, profesionalisme, transparansi, serta kemampuan mengelola risiko.
“Pasar modal diharapkan dapat melengkapi sumber pembiayaan yang telah tersedia, termasuk perbankan,””ujar Loto.
Ia menegaskan, keikutsertaan dalam Go Public Academy tidak berarti perusahaan otomatis harus melantai di bursa. Keputusan IPO tetap menjadi pilihan masing-masing perusahaan dengan mempertimbangkan kesiapan bisnis dan ketentuan yang berlaku.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman menjelaskan, program tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang RISE to IPO.
Program ini memiliki empat tahapan, yakni Reach untuk menjaring perusahaan potensial, Inspire untuk mengenalkan manfaat pasar modal, Support untuk mendampingi peningkatan kesiapan perusahaan, serta Elevate untuk mendorong perusahaan menjadi lebih kompetitif.
Sejak 2025, rangkaian program RISE to IPO telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Bandung.
Dari kegiatan di Jakarta dan Semarang, sebanyak 23 perusahaan telah dikurasi untuk mengikuti Intensive Coaching Clinic pada Februari 2026. Sementara peserta dari Surabaya, Makassar, dan Bandung akan melanjutkan proses pendampingan pada tahap berikutnya.
Kementerian UMKM mencatat, berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT), terdapat sekitar 15.300 usaha menengah yang terdata. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.600 perusahaan telah memiliki profil.
Sebanyak 200 pelaku usaha menengah kemudian dipilih untuk diperkenalkan lebih jauh pada peluang pembiayaan melalui pasar modal.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, pengembangan pasar modal tidak hanya berkaitan dengan perdagangan saham dan pencatatan perusahaan. BEI juga mendorong perusahaan meningkatkan kualitas bisnis sebelum masuk ke pasar modal.
Melalui pembinaan terstruktur, perusahaan diharapkan memahami persyaratan, manfaat, serta tanggung jawab menjadi perusahaan terbuka.
Dalam pelaksanaannya, BEI menggandeng PT Surveyor Indonesia (Persero) untuk mendukung verifikasi dan validasi informasi keuangan maupun nonkeuangan perusahaan. Kerja sama tersebut juga mencakup penguatan tata kelola serta aspek lingkungan, sosial, dan keberlanjutan.
Sementara itu, Go Public Academy for SMEs dikembangkan bersama Universitas Indonesia. Akademi ini akan menjadi sarana edukasi dan pendampingan bagi perusahaan yang ingin meningkatkan kesiapan memasuki pasar modal.
Program tersebut memiliki tujuh tahapan, mulai dari pengenalan pasar modal (Awareness), kesiapan perusahaan dan keuangan (Corporate Readiness dan Financial Readiness), persiapan IPO, hingga pengembangan perusahaan setelah tercatat di bursa.
Pendampingan juga melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, perusahaan efek, asosiasi, praktisi, dan lembaga pendukung lainnya.
Selain pembinaan, BEI juga mendorong peningkatan daya tarik perusahaan untuk melantai di bursa. Salah satunya melalui kajian bersama DDTC mengenai insentif perpajakan bagi perusahaan tercatat.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, perusahaan terbuka yang memenuhi persyaratan tertentu dapat memperoleh pengurangan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan sebesar tiga persen dibandingkan tarif umum.
Melalui program ini, BEI berupaya memperluas jumlah perusahaan Indonesia yang memiliki akses terhadap pendanaan pasar modal, sekaligus menyiapkan perusahaan agar lebih siap menghadapi persaingan bisnis setelah menjadi perusahaan terbuka. (vv)

















