Intinews | Penipuan di layanan keuangan digital makin jadi ancaman. Bukan cuma menyasar masyarakat umum, anak muda yang sehari-hari menggunakan layanan digital juga masuk dalam kelompok yang harus lebih waspada.
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat, sepanjang 2024 hingga 2025 terdapat 323.841 laporan penipuan dengan total kerugian mencapai Rp7,5 triliun.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah menghentikan 1.556 entitas pinjaman online ilegal dan 285 penawaran investasi ilegal.
Angka tersebut menunjukkan masih banyak masyarakat yang terjebak layanan keuangan ilegal. Persoalannya bukan hanya soal uang hilang, tetapi juga bagaimana konsumen mengenali layanan yang legal, memahami risikonya dan tahu harus berbuat apa ketika menjadi korban.
Kondisi itu yang kemudian dibawa Gen LIMAS melalui program GESIT (Gen LIMAS Visit) di Universitas Tridinanti Palembang.
Mengangkat tema “Smart Financial Choices: Kenali, Pilih, Lindungi”, kegiatan tersebut digelar di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tridinanti Palembang.
Kegiatan diikuti mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta anggota Gen LIMAS. Hadir pula Manajer Senior Divisi Pengawasan PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Provinsi Sumatera Selatan, Marissa Deviantara, bersama Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tridinanti Palembang, Dr. Hj. Msy. Mikial, SE., M.Si., Ak., CA., CSRS, beserta jajaran.
Marissa mengatakan mahasiswa berada pada fase penting untuk mulai membangun kebiasaan mengelola keuangan.
“Mahasiswa berada pada fase penting untuk mulai membangun kebiasaan dalam mengelola keuangan. Oleh karena itu, pemahaman yang diberikan sejak dini diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Marissa.
Menurutnya, pemahaman tersebut dibutuhkan agar generasi muda tidak asal memilih layanan jasa keuangan hanya karena mudah diakses.
Edukasi juga diarahkan agar mahasiswa mampu menjadi konsumen jasa keuangan yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
Sebelumnya, perwakilan Universitas Tridinanti Palembang menekankan kemudahan akses layanan keuangan harus dibarengi sikap hati-hati.
Mahasiswa diminta tidak hanya melihat keuntungan atau kemudahan sebuah layanan. Risiko juga harus dihitung sebelum mengambil keputusan keuangan.
Pesan serupa disampaikan Muhammad Febrin Abiyyu Ilyasa, President of Gen LIMAS 2026.
“Layanan keuangan semakin mudah untuk diakses, tetapi hal ini jangan sampai membuat kita salah dalam memilih layanan keuangan. Kita harus mengetahui apa yang kita butuhkan, paham risikonya, dan pastikan tetap aman dalam menggunakannya,” ujar Febrin.
Kegiatan GESIT kemudian dikemas tidak hanya dalam bentuk pemaparan materi.
Peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk melihat pemahaman awal mengenai literasi keuangan dan layanan keuangan digital.
Setelah itu, mahasiswa masuk ke sesi talkshow “BEKELAKAR (Belajar Kelola Keuangan dengan Aman dan Rasional) with Gen LIMAS”.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak membahas persoalan keuangan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mulai dari cara memilih layanan keuangan sampai mengenali risiko ketika berhadapan dengan layanan digital.
Suasana kegiatan dibuat lebih santai dengan sesi mengenal produk kecantikan bersama Somethinc. Setelah itu dilanjutkan dengan tanya jawab berhadiah.
Mahasiswa juga diajak mengikuti permainan “Red Flag or Green Flag?”.
Lewat permainan tersebut, peserta diminta menentukan apakah sebuah situasi atau tawaran keuangan patut dicurigai atau justru aman untuk dipertimbangkan.
Cara ini membuat edukasi tidak berhenti pada teori.
Mahasiswa diajak langsung membaca situasi dan mengambil keputusan.
Setelah seluruh rangkaian selesai, peserta kembali mengikuti post-test dan post-survey. Gen LIMAS juga memberikan merchandise kepada peserta yang mengikuti kegiatan secara aktif.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pernyataan penutup dan foto bersama.
Melalui GESIT, Gen LIMAS ingin memperluas edukasi literasi dan inklusi keuangan di lingkungan kampus.
Terlebih, perkembangan layanan keuangan digital membuat pilihan semakin banyak. Di saat yang sama, risiko juga ikut berkembang.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya tahu soal produk keuangan.
Mereka juga harus tahu mana yang legal, memahami risikonya dan tidak gampang tergiur tawaran yang terlihat menguntungkan.
Gen LIMAS menyatakan edukasi serupa akan terus didorong sebagai ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda di Sumatera Selatan.

















