Intinews | Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,24 persen pada Juli 2026. Penurunan harga cabai, bawang merah, dan sejumlah komoditas hortikultura menjadi faktor utama yang menahan laju inflasi di tengah dimulainya tahun ajaran baru.
Secara tahunan, inflasi Sumsel berada di angka 2,50 persen, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan harga kebutuhan pokok di daerah masih relatif terkendali sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Berdasarkan data Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, melimpahnya pasokan hasil panen membuat harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, hingga tomat mengalami penurunan sepanjang Juli. Di sisi lain, permintaan beras dan bawang putih mulai meningkat seiring kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan aktivitas sekolah.
Bagi masyarakat, kondisi tersebut memberikan ruang bernapas setelah beberapa bulan sebelumnya harga pangan sempat bergerak naik. Meski begitu, potensi kenaikan harga masih perlu diwaspadai memasuki Agustus.
Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI diperkirakan akan meningkatkan konsumsi masyarakat. Pada saat yang sama, musim kemarau yang lebih kering berpotensi memengaruhi produksi komoditas hortikultura apabila berlangsung lebih lama.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono menjelaskan, Bank Indonesia mencatat berbagai langkah stabilisasi harga telah dilakukan sepanjang tahun ini. Hingga akhir Juli, lebih dari 381 operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah, dan SPHP digelar di berbagai daerah di Sumatera Selatan untuk menjaga pasokan dan menekan gejolak harga.
Selain operasi pasar, distribusi pangan juga diperkuat melalui kerja sama antardaerah. Sumatera Selatan mendatangkan pasokan bawang merah dari Sumatera Barat dan cabai dari Kabupaten Magelang guna menambah stok ketika kebutuhan meningkat.
“Deflasi yang terjadi pada Juli terutama dipengaruhi meningkatnya pasokan komoditas hortikultura saat musim panen. Ke depan, kewaspadaan tetap diperlukan karena musim kemarau dan meningkatnya konsumsi masyarakat berpotensi memengaruhi pergerakan harga,” jelas Bambang dalam keterangan resminya.
Selain menjaga pasokan jangka pendek, pemerintah daerah juga mulai memperluas kerja sama antardaerah dan memperkuat rantai pasok pangan melalui program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). Langkah ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan bahan pangan sehingga gejolak harga tidak mudah terjadi ketika permintaan meningkat atau produksi terganggu.
Bagi masyarakat, stabilnya harga pangan bukan hanya berdampak pada pengeluaran rumah tangga, tetapi juga memberi kepastian bagi pelaku usaha, petani, dan pedagang dalam menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari. (vv)

















