Intinews | Provinsi Sumatera Selatan mencatatkan kinerja positif dalam pengendalian inflasi. Pada April 2026, Sumsel mengalami deflasi sebesar 0,04 persen (month to month/mtm), berbalik dari inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 0,29 persen.
Secara tahunan, inflasi juga menunjukkan tren melandai menjadi 1,63 persen (year on year/yoy), turun signifikan dari 3,09 persen. Angka ini bahkan berada di bawah inflasi nasional yang tercatat sebesar 2,42 persen (yoy).
Capaian tersebut mencerminkan stabilitas harga yang terjaga serta efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah, sekaligus memberikan ruang bagi daya beli masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi erat seluruh pemangku kepentingan.
“Deflasi yang terjadi pada April 2026 menunjukkan bahwa koordinasi pengendalian inflasi di Sumatera Selatan berjalan efektif. Stabilitas harga yang terjaga ini diharapkan dapat terus mendukung daya beli masyarakat dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Bambang.
Secara bulanan, deflasi dipicu oleh penurunan harga sejumlah komoditas utama. Di antaranya emas perhiasan sebesar 0,14 persen, daging ayam ras 0,14 persen, telur ayam ras 0,06 persen, cabai rawit 0,04 persen, serta tarif angkutan antarkota sebesar 0,04 persen.
Penurunan harga emas dipengaruhi aksi ambil untung investor setelah kenaikan harga pada periode sebelumnya. Sementara itu, koreksi harga pangan dan transportasi mencerminkan normalisasi permintaan pasca Ramadan dan Idulfitri.
Meski demikian, tekanan inflasi pada Mei 2026 diperkirakan meningkat secara terbatas. Hal ini dipicu potensi kenaikan tarif angkutan udara akibat naiknya harga avtur yang dipengaruhi dinamika harga minyak global, serta risiko awal musim kemarau terhadap produksi hortikultura.
“Ke depan, potensi tekanan inflasi tetap perlu diwaspadai, terutama dari faktor global dan musiman. Namun, kami optimistis risiko tersebut dapat dikelola melalui langkah pengendalian yang terukur dan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan TPID,” tambah Bambang.
Dalam menjaga stabilitas harga, TPID Sumatera Selatan terus memperkuat strategi berbasis 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Hingga akhir April 2026, lebih dari 300 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah dilaksanakan di berbagai wilayah. Selain itu, puluhan inspeksi mendadak (sidak) pasar juga dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok dan kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi.
Upaya stabilisasi turut diperkuat melalui subsidi harga dan subsidi ongkos angkut. Bank Indonesia Sumatera Selatan tercatat telah memfasilitasi 77 kali subsidi distribusi pangan dengan total volume mencapai sekitar 47,92 ton.
Tak hanya itu, Kerjasama Antar Daerah (KAD) juga terus dioptimalkan. Selama Maret hingga April 2026, realisasi kerja sama antara Sumsel dan Sumatera Barat untuk komoditas bawang merah mencapai 22,67 ton guna memperkuat pasokan di daerah.
Di sisi lain, ketahanan pangan daerah terus diperkuat melalui program inovatif Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) yang kini diperluas dengan melibatkan pesantren dan koperasi sebagai bagian dari ekosistem produksi dan distribusi pangan.
Ke depan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung program prioritas nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). (vv)

















