Intinews | Pekerjaan rumah PLN untuk menerangi wilayah pelosok Sumatera Selatan masih cukup panjang. Dalam Program Listrik Perdesaan (Lisdes) 2026, tercatat 129 lokasi yang belum mendapat akses listrik.
Dari jumlah tersebut, 98 lokasi sudah masuk daftar yang bisa segera dikerjakan. Targetnya, pembangunan selesai akhir 2026 hingga kuartal pertama 2027.
Masalahnya bukan sekadar menarik jaringan listrik.
Sejumlah lokasi masih terbentur persoalan lahan, akses jalan untuk membawa material, tanam tumbuh hingga izin kawasan hutan. Ada pula lokasi yang berada di wilayah perairan.
Persoalan itu dibahas PLN bersama Kementerian ESDM, kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah dalam kegiatan sinkronisasi usulan lokasi Program Lisdes di Kantor PLN UID Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (S2JB), Palembang.
Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI, Andriah Feby Misna, mengatakan status masing-masing lokasi harus dipastikan sebelum pekerjaan berjalan.
“Setiap lokasi harus memiliki data yang lengkap, akurat dan terverifikasi. Termasuk kesiapan lahan dan penyelesaian perizinannya,” kata Andriah.
Menurutnya, data menjadi dasar untuk menentukan lokasi mana yang sudah siap dibangun dan mana yang masih harus dibereskan.
Jangan sampai pekerjaan teknis sudah disiapkan, tetapi persoalan lahan atau izin belum selesai.
“Program Listrik Perdesaan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempercepat penyediaan akses tenaga listrik secara merata, khususnya bagi masyarakat di wilayah perdesaan, terpencil, dan belum berlistrik,” ujarnya.
Andriah meminta persoalan di setiap titik dibuat terang. Bukan hanya soal lokasi, tetapi juga siapa yang menangani dan kapan harus selesai.
“Kita perlu memastikan status setiap lokasi, status lahannya, status perizinannya, dokumen yang masih diperlukan, pihak yang bertanggung jawab, serta target waktu penyelesaiannya,” katanya.
Untuk 98 lokasi yang sudah bisa ditindaklanjuti, PLN menyiapkan jaringan tegangan menengah sepanjang 141,18 kilometer sirkuit.
Kemudian jaringan tegangan rendah sepanjang 193,94 kilometer sirkuit. Gardu distribusi juga disiapkan dengan total kapasitas 5.450 kVA.
General Manager PLN UID S2JB, Diksi Erfani Umar, mengatakan kondisi di lapangan berbeda-beda.
“Ada yang membutuhkan kepastian lahan, pembukaan akses mobilisasi material, penyelesaian tanam tumbuh, hingga perizinan kawasan hutan,” kata Diksi.
Akses menuju lokasi menjadi salah satu persoalan. Di sejumlah titik, kendaraan pengangkut material belum bisa masuk dengan mudah.
Belum lagi jalur jaringan yang direncanakan melewati kawasan hutan produksi maupun hutan lindung. Untuk lokasi tertentu, PLN juga harus berhadapan dengan kondisi wilayah perairan.
“PLN telah menyiapkan perencanaan teknis dan langkah pelaksanaannya. Namun, karakter setiap lokasi berbeda,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah daerah ikut dibutuhkan. Mulai dari memperbarui data calon lokasi, memastikan status lahan, membantu akses menuju titik pembangunan, sampai menyelesaikan persoalan sosial dan tanam tumbuh.
Perizinan juga masuk dalam pembahasan, terutama untuk jalur jaringan yang berada atau melintasi kawasan hutan.
PLN sendiri tidak memaksakan semua lokasi harus dilayani dengan pola jaringan yang sama.
Untuk daerah yang sulit dijangkau jaringan eksisting, disiapkan alternatif pembangkit. Di Sumatera Selatan, PLTS direncanakan untuk mendukung Lisdes di 14 lokasi.
Diksi mengatakan persoalan di lapangan harus diketahui sejak awal. Jangan sampai material sudah siap, tetapi pekerjaan tertahan karena persoalan lain.
“Yang penting, setiap kendala punya langkah penyelesaian, siapa yang menangani dan kapan ditindaklanjuti,” katanya.
PLN juga masih menerima usulan desa dan dusun yang belum mendapat akses listrik.
“PLN siap berkolaborasi dan terus terbuka terhadap usulan desa maupun dusun yang masih membutuhkan akses listrik,” ujar Diksi.
Saat ini, pembahasan Lisdes di Sumsel diarahkan untuk membereskan titik-titik yang sudah masuk daftar pembangunan. Untuk 98 lokasi, PLN bersama pemerintah daerah dan pihak terkait masih memastikan seluruh kebutuhan pendukungnya sebelum pekerjaan fisik dimulai. (vv)

















