Intinews | Suasana di lokasi penutupan Kompetisi Digital Kito Galo (DKG) 2026 berubah riuh ketika panitia mengumumkan para pemenang. Tepuk tangan peserta dan guru pendamping terdengar memenuhi ruangan. Dari hampir 60 pelajar SMA yang mengikuti kompetisi, hanya 10 peserta yang berhasil masuk babak final.
Saat nama Raifa Lakeisha, siswi kelas XI SMAN 6 Palembang, disebut sebagai juara pertama, beberapa teman satu sekolahnya langsung menghampiri dan memeluknya. Raifa tampak tersenyum sambil menerima ucapan selamat.
“Pesertanya hampir 60 orang, jadi persaingannya memang ketat. Saya fokus belajar dari materi yang diberikan panitia. Yang paling saya pelajari tentang Bank Indonesia sebagai bank sentral, perlindungan Rupiah, sama QRIS,” ujar Raifa.
Menurut Raifa, soal yang dihadapi tidak hanya menguji hafalan.
“Kalau cuma hafal rasanya susah. Kita memang harus paham materinya.”
Juara kedua diraih Safira Salsabila, siswi kelas XI SMAN 1 Palembang. Safira mengaku baru mengetahui materi yang akan diujikan beberapa hari sebelum lomba.
“Saya baru mulai belajar sekitar lima hari sebelum lomba. Panitia kasih kisi-kisi sama PPT, jadi saya pelajari itu dulu.”
Ia mengaku sebelumnya belum pernah mempelajari secara khusus materi mengenai Bank Indonesia.
“Jujur, sebelumnya saya enggak terlalu tertarik belajar soal bank sentral. Setelah ikut lomba baru tahu ternyata banyak hal yang menarik. Saya jadi tahu tentang QRIS, perlindungan konsumen, AI, sama materi lain yang sebelumnya belum saya pelajari.”
Menurut Safira, materi perlindungan konsumen menjadi salah satu bagian yang cukup susah dan menantang.
“Banyak singkatan layanan perbankan yang baru saya tahu. Jadi memang harus benar-benar dibaca,” ujarnya.
Di posisi ketiga ada M. Khubaid Arrasyid, siswa kelas XI SMA Negeri Sumatera Selatan. Ia mengatakan baru mengetahui adanya kompetisi tersebut saat awal libur sekolah.
“Saya baru tahu sekitar tanggal 26 pas liburan. Setelah daftar, beberapa hari kemudian panitia kirim materi, ” ungkapnya.
Saat diwawancarai, Khubaid beberapa kali tersenyum ketika menceritakan cara belajarnya. Ia memanfaatkan Gemini untuk membantu membuat soal latihan dari materi yang dipelajari.
“Saya pakai Gemini buat bikin soal latihan. Konsepnya tetap saya yang buat. AI membantu bikin pertanyaannya, terus saya kerjakan sendiri. Mungkin 50 persen dari AI, 50 persen lagi dari pelajaran di sekolah,” terangnya sumringah.
Sebagai siswa jurusan IPA, Khubaid mengaku harus belajar mandiri agar memahami materi mengenai Bank Indonesia.
“Saya anak IPA, jadi enggak belajar ekonomi sedalam anak IPS. Mau enggak mau harus belajar sendiri biar enggak gaptek, apalagi sekarang semuanya sudah serba digital, ” kata Khubaid.
Ia mengatakan materi mengenai Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah sebenarnya sudah dikenalkan di sekolah. Namun melalui kompetisi ini pemahamannya menjadi lebih luas.
“Kalau di sekolah memang sudah diajarkan. Setelah ikut lomba saya jadi lebih paham kenapa kita harus mencintai Rupiah, bangga menggunakannya, dan ikut menjaganya, ” tambahnya.
Para peserta juga menilai materi perlindungan konsumen menjadi salah satu bagian yang cukup menantang. Banyak istilah, singkatan layanan perbankan, hingga berbagai fitur sistem pembayaran digital yang harus dipahami secara menyeluruh, termasuk layanan berbasis mobile banking dan QRIS.
Selain itu, materi mengenai Bank Indonesia sebagai bank sentral juga dinilai cukup luas sehingga membutuhkan pemahaman konsep secara umum sekaligus kemampuan mengaitkannya dengan perkembangan digitalisasi ekonomi saat ini.
Kompetisi Digital Kito Galo tahun ini menguji pemahaman peserta mengenai tugas dan fungsi Bank Indonesia sebagai bank sentral, sistem pembayaran digital, QRIS, perlindungan konsumen, serta program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah. (vv)

















